[Fan Fiction] Catch Me If You Can – Chapter 2

“Hei, Shinye, aku boleh mengambil foto flatmu, kan?” seru Siwon dari livingroom begitu kami selesai makan malam.

“Ya, selama kau tidak tiba-tiba menguploadnya di twitter saja,” kataku kemudian menjawabnya, merujuk pada kebiasaannya yang entah kenapa suka sekali mengupload semua foto dan memamerkannya pada para penggemarnya di luar sana, sementara kudengar Siwon sengaja membuat suara tawa a la Santa Clause menjawab sindiranku.

Meskipun kusadari aku hanya bersikap berlebihan dengan terlalu banyak pertimbangan ini dan itu, toh sebenarnya orang-orang juga tidak akan pernah tau di mana foto itu diambil bila pun Siwon menaruhnya di internet. Tapi aku sudah banyak mendengar cerita tentang mereka yang dikuntit orang-orang tidak dikenal karena pertemanan mereka dengan beberapa selebritis terkenal, dan aku hanya tidak ingin mengambil resiko ini, demi kemaslahatan bersama. Baiklah, sekali lagi, aku tau ini sangat berlebihan, jadi mulai detik ini aku akan melupakannya dan bersikap biasa saja. .. Kurasa tidak sulit mencoba untuk kembali melihat Siwon seperti pria biasa saja, setidaknya saat ini tanpa ribuan kamera terarah dari berbagai sudut di antara kami.

“Tempat ini menyenangkan sekali, .. aku harus membeli satu flat di sini, suatu saat nanti aku berniat untuk menghabiskan masa tuaku di London, membayangkannya saja aku senang sekali.” ujarnya berceloteh dengan semangat begitu kembali ke dapur dan membantuku membuka satu botol wine yang kami beli di Tesco sebelumnya, menuangkannya ke dalam dua gelas kristal dan memberikannya satu padaku sementara aku memotong strawberry untuk salad buah kami.

Aku baru pernah melihatnya seperti ini sebenarnya, bicara panjang tentang banyak keinginannya untuk ‘masa tuanya’ ini dan itu sambil menggoyangkan kepalanya dan kadang sambil loncat-loncat di kakinya sendiri seperti anak kecil yang kegirangan saat bercerita tentang hal yang sangat disukainya. Yang lucu adalah saat dia kemudian mengubah kata ganti ‘aku’nya menjadi ‘kita’ dalam bayangannya, seperti ‘kita harus melihat banyak tempat di dunia ini’, ‘kita harus punya home theatre’ dan ‘kita mungkin harus mencari rumah yang besar kalau saja anggota Super Junior berniat reuni suatu hari nanti’, seolah aku akan menjadi bagian dalam kisah masa depannya. Bukan berarti aku tidak menyukainya, bila dia mengatakan hal seperti ini bertahun-tahun yang lalu saat aku tengah sangat tergila-gila padanya, mungkin rahangku saat ini sudah lepas dari sendinya karena terlalu bersemangat dengan keantusiasanku sendiri. Dan itu juga bukan berarti bahwa aku tidak lagi tergila-gila padanya, kenyataan bahwa, anehnya, aku masih merasakan getaran yang sama seperti yang pernah kurasakan dulu padanya adalah alasan kenapa kami berdua berdiri di ruang sama saat ini, hanya saja Siwon yang saat ini berdiri di sampingku bukanlah Siwon yang sama seperti yang kukenal dulu. Bagaimanapun juga dia telah berubah, dirinya, seluruh kehidupannya, dan ini bukanlah hal yang bisa dengan mudah kuterima. Jadi aku hanya mengiyakan semua kata-katanya dengan level keantusiasan yang sama besarnya agar tidak membuatnya kesal karena merasa tidak diacuhkan.

“Jadi, pekerjaan macam apa yang kau lakukan di sini? Kenapa setelah seminggu kau di London dan masih saja menjadi turis asing?” tanya Siwon begitu kembali duduk di kursi meja makan mulai menikmati salad buah sambil menyeruput wine dari gelasnya.

Matthiesen Institute mengadakan pameran dan lelang karya seni oriental bersama Christie selama lima hari minggu lalu, dan aku berada dalam tim kurator junior untuk memfasilitasi informasi dan kebutuhan beberapa pihak selama pameran. Lalu hari Sabtu dan Minggu kemarin aku membantu Professor Clinth Burke menjadi asistennya untuk berpidato di simposium Fine Arts seDunia di Sotheby’s. Jadi begitulah hari-hariku disita dengan kesibukan itu, ..”

“Bahkan mereka tidak memberimu hari libur untuk tahun baru lunar kemarin?” Siwon bertanya lagi dengan ekspresi seriusnya, yang cukup membuatku geli tapi tidak ingin kurusak suasana ini dengan tawa canggung, hingga kujawab dia hanya dengan kedua alisku yang terangkat.

“Ada sih, tapi karena aku belum punya banyak teman di sini, dan karena satu-satunya teman Koreaku sedang berada di Paris tahun baru kemarin, jadi aku memutuskan untuk bekerja daripada merayakannya sendiri. Lagipula saat di Amerika kami juga tidak terlalu begitu merayakannya, .. kalau saja kau memberitauku jauh-jauh hari kunjunganmu ke London, aku pasti akan mengambil waktu kosongku dari Profesor Burke.” Kataku kemudian menjelaskan sebelum memberitaunya bahwa kantor memberiku istirahat sehari dan apa saja yang kulakukan di atas tempat tidurku sepanjang hari ini (apa lagi kalau bukan tidur, membaca jurnal Komplikasi milik Atul Gawande, tidur lagi dan terus begitu) sebelum pesannya di KakaoTalk membuatku harus turun dari surga duniaku.

Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Siwon tentunya dalam hal ini, ketika baru kuingat bahwa aku sama sekali belum mengurus nomor baruku begitu mendarat di London. Fakta bahwa beberapa hari sebelumnya aku hanya menggunakan seranta selama bekerja dan baru mengaktifkan nomor baru yang partner kerjaku berikan begitu lelang selesai kemarin malam adalah alasan kenapa Siwon tidak berhasil menghubungiku di hari pertamanya menginjakkan kaki di kota ini. Ya, terutama karena Siwon masih bertahan tidak ingin disalahkan dengan tidak memberitauku sejak awal tentang kedatangannya, pada akhirnya semua ini adalah tentang cara kerja sistem, bila ada yang harus disalahkan.

“Di mana kau menginap?” tanyaku di tengah obrolan kami ketika membicarakan ke mana saja tempat yang telah dikunjunginya beberapa hari ini.

“Aku menginap di Cumberland Hotel sampai tanggal 28 nanti, … kau tidak tau kan di mana Cumberland Hotel?” Siwon balik bertanya saat tidak melihat reaksi apapun dariku begitu mendengar nama hotelnya, sementara aku terkekeh lebar dan menggeleng. Bagaimana aku bisa tau kalau seputaran St. James dan Kenshington adalah satu-satunya area jajahanku selama seminggu ini.

“—Hotelnya hanya beberapa meter dari Marble Arch, bahkan aku bisa melihatnya dari kamarku.”

Kalau ini aku paham, dan aku mengangguk mengerti sebagai tanda konfirmasi. Meski tidak pernah berhenti untuk berjalan-jalan di sana, setidaknya aku pernah sekali melewati gerbang tinggi yang sekilas mirip dengan Arc the Triomphe Paris itu, pertama kali melihatnya di peta dulu bahkan aku mengira bangunan itu adalah gapura kemenangan yang sangat terkenal di negara Perancis ini sampai seorang teman kampus mengoreksinya untukku. Dan itu menjelaskan kenapa Siwon sepertinya sering sekali menyusuri Oxford Street dan berkeliaran di kawasan West End selama dua hari ini, selain kenyataan bahwa memang daerah inilah pusat daya tarik turis domestik dan asing yang berasal dari luar Inggris.

“Dan kau di sini untuk berlibur?” tanyaku lagi, masih haus dengan berbagai jawaban yang belum terpuaskan, tapi langsung mengangguk mengerti saat Siwon menjawabnya dengan terus terang. Dia di sini untuk pemotretan sebuah iklan yang telah mengontraknya selama beberapa tahun sebagai Brand Ambassador mereka. Aku sedikit kecewa terus terang saja, meskipun dia mengatakan padaku pemotretan itu hanya dua hari dan dia sengaja datang lebih awal untuk sekaligus berlibur, sebenarnya aku ingin mendengar bahwa dia berniat untuk menemuiku sejak awal. Entah bila niatan ini sempat terbersit di dalam kepalanya, tapi keabsenan kata-kata tentang hal itu bagaimanapun juga memaksaku untuk berpikir lebih logis, kami memang tidak akan pernah bisa berjalan dengan langkah yang sama.

“Lihatlah wajahmu, .. aku pernah melihat ekspresi seperti ini sebelumnya. Kau ingat malam itu di belakang markas klub sepak bola?”

Seketika tawaku pecah dan aku mengangguk mengiyakan, tentu saja aku mengingatnya. Saat itu kami masih duduk di bangku SMP, Siwon adalah murid senior sementara aku dua tahun di bawahnya, seorang junior yang baru saja masuk ke dalam sekolah mereka setelah menghabiskan bertahun-tahun di sekolah dasar.

Siwon berteman baik dengan kakakku saat itu, aku masih ingat mereka selalu pergi berdua tiap pulang sekolah entah ke mana, dan karena sering membicarakannya di rumah membuatku penasaran seperti apa sosok seorang Choi Siwon yang sesungguhnya begitu menjadi seorang murid sekolah menengah. Dan aku tidak pernah tau bahwa kakakku dan satu temannya ini adalah dua dari beberapa anak laki-laki yang begitu digilai di sekolah, kakakku tidak semenarik sahabatnya tentu saja. Dengan wajah yang saat itu konon mirip dengan Kangta dari grup terkenal HOT, tampan, dan juga pemain inti dalam klub sepak bola membuatnya memiliki fansclub sendiri, terlebih lagi di saat bersamaan dia juga adalah Class President di sekolah. Siwon punya banyak sekali penggemar rahasia yang hanya bisa menyimpan segalanya sendiri karena beberapa orang cenderung mempermasalahkannya bila ketauan juga mengidolakannya, dan aku adalah salah satu dalam barisan gerilya ini.

Tanpa sepengetahuan orang-orang, kerap kali aku menguntit ke mana Siwon pergi sepulang sekolah atau latihan klub. Aku tidak pernah pergi bila kakakku sedang bersamanya, tidak ingin mengambil resiko bila saja secara tidak sengaja kakakku menangkapku menguntit mereka, aku hanya benar-benar memberanikan diri mengikutinya bila Siwon pergi seorang diri. Kadang di pepustakaan, kadang aku berpura-pura duduk di bawah pohon dekat tangga tepi lapangan mengerjakan sesuatu alih-alih mengawasinya berlatih sepak bola, kadang aku menemukannya bermain basket seorang diri di taman bermain dekat rumahnya. Semua itu kulakukan karena aku sangat menyukai saat-saat kesendirianku menontonnya beraktifitas, tanpa dia pernah tau, tanpa siapapun pernah tau hingga suatu hari rahasia itu terbongkar begitu saja.

Saat itu beredar kabar bahwa beberapa anggota Siwonest (ya, ini memang nama klub pecinta Siwon yang terkenal itu dan telah terbentuk sejak bertahun-tahun yang lalu, fanbase sasaeng terbesar yang paling Siwon akui keberadaannya, aku curiga bila pemasok segala informasi hingga donatur tetapnya adalah para pendirinya yang terdahulu itu. O_O .. yeah, ekspresi wajahku juga tepat seperti itu ketika mendengar nama ini lagi untuk pertama kalinya beberapa bulan yang lalu) mencurigai anak-anak junior yang bergerilya di luar sepengetahuan mereka menguntit Siwon. Kenyataannya sebenarnya aku tidak pernah tau sebelumnya bahwa hal semacam ini dilarang, dan para petingginya yang kebanyakan adalah siswa senior itu entah bagaimana tiba-tiba saja menyeretku begitu keluar perpustakaan setelah self-study ke belakang ruang klub sepak bola. Di sanalah kemudian mereka melabrakku habis-habisan, membacakan tiap pasal (ya, pasal dalam kitab aturan mereka, kau tidak salah membaca) pelanggaran yang telah kulakukan seolah aku adalah seorang kriminal yang bersalah karena membunuh seseorang atau semacamnya.

Permasalahannya adalah mereka belum tau saat itu sedang berhadapan dengan siapa, selain satu teman di samping mejaku, tidak ada yang tau di sekolah bahwa aku adalah saudara kecil Kim Shinju, kapten tim sepak bola andalan mereka. Aku memang pernah mengatakannya pada kakakku sebelumnya, bahwa aku tidak akan memberi tau siapapun tentang hubungan darah kami, karena tidak ingin ikut menjadi perhatian seluruh satu isi sekolah karena terbawa namanya, sungguh, saat itu aku benar-benar menyesali keputusan bodoh ini. Aku tidak pernah percaya bahwa para senior bertubuh besar itu akan bergabung menjadi satu dan memutuskan untuk menjadi geng super galak yang tidak segan untuk memukuli siapapun yang keliatan lebih lemah daripada mereka, dan malam itu aku seorang diri, sementara mereka berlima. Aku tidak yakin bagaimana bentuk rupaku setelah malam itu bila saja tiba-tiba Siwon tidak muncul di sana untuk membubarkan gadis-gadis liar ini.

Masih terbayang di dalam kepalaku amarah yang tergambar jelas di setiap lekuk wajahnya malam itu, meski tidak begitu jelas, remang cahaya dari belakang ruang klub memperlihatkan siluet rahangnya yang mengeras karena marah. Kedua alisnya yang tebal bersatu sebelum kemudian mengumpat keras dengan berbagai sumpah serapah memaki para gadis ini, aku menatap mereka saling berteriak saat itu dan Siwon mengangkat tinggi tongkat baseball yang entah dibawanya dari mana mengancam akan memukul mereka bila tidak segera meninggalkan tempat itu, hingga akhirnya para gadis itu pun berlalu sebelum sempat menghabisiku habis-habisan.

Highlightnya adalah apa yang terjadi kemudian, yang tidak berhenti kami tertawakan hingga saat ini bila mengingatnya kembali. Ketika pada akhirnya kami tinggal berdua, Siwon membuang tongkatnya jauh-jauh dan berlutut di depanku untuk membantuku berdiri sementara kemudian dia duduk di pinggir tembok memijat kepalanya. Saat itu kupikir dia terluka karena sesuatu, atau bila dia terlalu marah karena kejadian sebelumnya dan aku tidak berani mendekatinya, hanya berdiri membeku di atas kakiku menatapnya dalam diam hingga kemudian dia mendesah dan berkata sesuatu,

“Demi Tuhan, tadi itu mengerikan sekali … Auuf, .. sebentar, jantungku berdetak kencang sekali, aku tidak pernah menyangka harus menghadapi para troll itu, bagaimana kau bisa berada di antara mereka? kau tidak lihat badan mereka besar-besar sekali? Mereka bisa membunuhmu, kau tau? Mana Shinju? Kenapa kau tidak pulang bersamanya?”

Andai saja saat itu aku bisa mengatakan sesuatu untuk menjawab serbuan kata dan pertanyaan dari kepanikannya, tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun karena sama-sama syok. Yang pertama adalah karena untuk pertama kalinya aku mengenal kerasnya dunia persaingan, dan juga betapa mengerikannya perempuan bila dibakar api cemburu, yang kedua, aku tidak pernah menyangka seorang Choi Siwon memiliki sisi seperti ini juga. Dan saat ini, kami menertawakannya.

“Ya, aku memang takut sekali saat itu. Satu-satunya alasan aku membiarkan klub itu tetap berdiri hingga tahun terakhirku di sana adalah karena Hwang Biyoung dan teman-temannya itu ganas sekali, terus terang saja aku tidak berani ambil resiko untuk melawan mereka,” ujarnya kemudian, yang membuatku terpingkal-pingkal di kursiku sampai memukul-mukuli sisi meja karena terlalu lucu. Aku tidak pernah membayangkannya sama sekali, kalau saja semua penggila Siwon di luar sana tau insiden semacam ini pernah terjadi pada idolanya saat SMP dulu, aku yakin imagenya saat ini pasti tidak akan sesempurna ini, atau tidak akan lagi, bila suatu saat nanti aku memutuskan untuk membocorkan cerita ini.

“Kau masih ingat apa yang kukatakan malam itu saat mengantarmu pulang?” tanya Siwon lagi, memastikan, dan aku menjawabnya.

Bagaimana mungkin aku akan melupakannya, kalimat yang dilontarkannya padaku adalah sebuah pernyataan terindah yang pernah kudengar, kalimat yang mengubah hidupku dalam semalam dan akan selalu terkenang di dalam kepalaku sampai kapanpun. Siwon mengatakannya di depan gedung apartemenku begitu mengantarkanku pulang dari sekolah, seruannya begitu lantang dan mendominasi hingga aku bisa merasakan ketulusannya yang membuatku semakin menyukainya seketika. Malam itu dia menyuruhku untuk mengatakan pada semua orang aku adalah pacarnya, dengan begitu orang-orang akan berhenti menggangguku.

Kami tidak pernah sungguh berpacaran sebenarnya, aku hanya mengatakan apa yang dia suruh dan Siwon mengiyakannya bila orang-orang bertanya untuk mengkonfirmasi. Dalam sehari berita ini tersebar luas ke seluruh sekolah, sekaligus beredarnya fakta tentang hubungan darahku bersama Kim Shinju yang melengkapkan segalanya. Siwon masih tetap sama, berteman baik dengan kakakku sementara aku hanya menyapanya seperlunya karena terlalu malu untuk bicara banyak dan kami bertingkah seperti pasangan yang malu-malu di koridor sekolah dengan siulan teman-teman yang tiada henti. Permainan ini terus berjalan hingga sisa tahun itu, yang cukup menjamin keberadaanku di sekolah hingga akhirnya mereka berdua lulus SMP, dan keluargaku pindah ke Amerika. Selain dari cerita kakakku, aku tidak pernah mendengar kabar apapun darinya setelah itu.

“Kau pasti akan terkejut mendengar ini, tapi sebenarnya aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku saat itu,”

Aku tidak tau harus berkata apa saat mendengarnya, kata-kata yang mana? Bahwa dia adalah pacarku atau bagian bahwa orang-orang akan berhenti mengangguku saat itu?

“—Shinju sering kali bercerita tentang adiknya yang luar biasa manis dan menggemaskan, dan saat melihatmu kau benar-benar persis sama seperti yang dikatakannya. Tidak bisa berhenti bergerak, pemberontak, dan pemalu .. Lucu sekali,” ujarnya kemudian seraya menyentil hidungku, gemas.

Begitukah?

Pengakuan ini mengejutkanku tentu saja, karena dulunya aku tidak berpikir bahwa dia serius dengan kata-katanya. Selama ini aku berpikir karena dia adalah teman baik kakakku maka yang ada di kepalanya tidak jauh berbeda seperti yang Shinju pikirkan tentangku, bahwa aku hanya gadis kecil pemberontak yang membuatnya seringkali ingin mengikatku di bawah pohon dan meninggalkanku di sana agar aku tidak lagi menganggunya. Terutama karena sikap Siwon beberapa bulan ini dalam intensitas obrolan kami juga tidak menunjukkan sikap yang berbeda, aku lega mendengarnya, tapi juga semakin gusar di saat yang sama.

”Aku sangat menyukaimu saat itu,” kataku pada akhirnya mengakui, “Aku tidak pernah mengatakan ini sebelumnya, tapi alasan kenapa Hwang Biyoung dan teman-temannya menyerangku malam itu karena mereka menangkapku menguntitmu ke manapun kau pergi,”

Siwon menutup mulutnya yang terbuka lebar tidak percaya, dan aku mengangguk meyakinkannya bahwa yang kukatakan bukan cerita karanganku saja, dan mulutnya terbuka semakin lebar.

“Kau seharusnya mengatakannya sejak awal, Kim Shinye, kalau kau memang menyukaiku, dengan begitu kita sudah menjadi pasangan betulan sejak dulu.”

Pasangan? Dan dia mengatakan ‘sejak dulu’, bukannya ‘dulu’, yang berarti mungkin saat ini kami seharusnya masih menjadi pasangan. Penggunaan kata yang Siwon pilih kadang sering kali membuatku terperangah, dia tidak pernah gagal membuatku kehabisan kata untuk meresponnya, tanpa pernah tau apa yang harus kukatakan untuk menjawab kata-katanya yang sama sekali tidak terpikirkan olehku. Ya, aku bertanya-tanya apakah dia sungguh-sungguh dengan kalimatnya, karena pernyataan semacam ini terdengar seolah entah dia tidak tidak peduli dengan apapun situasi yang terjadi di antara kami, atau dia memang telah siap menjalani sebuah hubungan tersembunyi yang semua orang tau, sama sekali tidak mudah melakukannya. Satu hal yang juga tidak akan kulakukan, demi kebaikan bersama.

“Entahlah,” ujarku saat Siwon kemudian bertanya apakah sekarang aku masih menyukainya. Bila harus kukatakan sejujurnya, aku memang masih menyukainya saat ini, hanya saja aku tidak yakin apakah perasaanku padanya masih sebesar dulu atau tidak.

“Kenapa?”

Aku tidak bisa menjawab alasannya. Lebih dari itu, pertanyaan seperti ini bukanlah hal yang bisa kujawab dalam waktu singkat, terutama karena aku bisa menebak topik apa lagi yang mungkin setelah ini akan kami bicarakan. Sambil memijat leher aku menatapnya dengan bibir tertutup rapat dan bahu yang terangkat menjawab pertanyaannya.

Satu hal yang kusukai dari Siwon kurasa adalah sikapnya yang penuh pengertian. Ketika tadinya aku berpikir dia akan bersikap keras kepala dengan terus membahas ini hingga dia mendapatkan jawaban yang diinginkannya, yang terjadi adalah Siwon yang malah mengangguk-anggukkan kepalanya berusaha mengerti sementara kedua tangannya terlipat di atas meja, memainkan tepian gelas winenya.

“Baiklah aku mengerti. Kita lama sekali tidak bertemu, dan banyak hal pastinya terjadi denganmu. Aku tidak bisa mengharapkan kau terus saja menyimpan perasaan yang sama terhadapku selama bertahun-tahun,”

“Bagaimana denganmu? Saat ini kau masih menyukaiku?”

“Ya, tentu saja.” Ujarnya menjawab pertanyaan balasanku dengan keyakinan tinggi yang kembali membuatku terperangah, “Umm, aku juga menyukai beberapa gadis selama beberapa tahun ini sih, tapi aku tetap menyukaimu bagaimanapun juga. … tapi jangan terlalu memikirkannya, ini bukan berarti aku memaksamu untuk tetap menyukaiku, maksudku, aku tau kau memang masih menyukaiku, tapi obrolan kita malam ini agak sedikit absurd dan aku tidak ingin membingungkanmu dengan semua ini, jadi, jangan merasa bersalah.”

Aku mendengus dan kemudian tertawa. Bila saja ada mesin cuci di sampingku saat ini, mungkin sudah kulempar ke wajahnya. Bagaimana dia bisa membalikkan keadaan sedrastis ini dalam sekejap, membuatku yang awalnya berpikir keras tentang hatiku, perasaanku, ini dan itu, hingga kalimat terakhirnya yang frontal itu seolah membantingku dengan keras tepat di bawah kakinya. Choi Siwon dan kenarsisannya itu, entah kapan aku bisa terbiasa menaklukkannya.

“Hei, aku hampir lupa, .. aku punya sesuatu untukmu.” Siwon menegakkan posisi duduknya begitu bersepakat tanpa kata bahwa ‘mungkin’ kami akan membahas tentang ini lain kali saat waktunya tepat, terutama karena saat ini aku sudah mulai terbawa pengaruh wine dan obrolan yang membutuhkan akal sehat agak sedikit sulit kuikuti tanpa membuatku mengatakan hal yang bodoh, dia mengeluarkan iPhone dari saku celananya.

“Aku berpikir kau pasti akan menyukainya untuk mempekerjakan otakmu .. (aku kembali tertawa mendengar dua kata terakhirnya, karena dia mengatakannya seolah aku sama sekali tidak pernah memakai otakku selama ini) Album ini sudah lama sekali keluar, dan aku tidak ingat apakah banyak orang sempat mempermasalahkannya, hanya saja beberapa tahun kemudian saat aku bergabung dengan para trainee SM, kami sempat membicarakan hal ini. Aku yakin itu bukan hanya deretan angka saja, pasti ada sesuatu yang dia coba katakan di sana.”

 

Dahiku berkerut begitu kutatap foto apa yang diberikannya padaku, dari dua nama yang tertera di sana aku bisa langsung menduga apa yang saat itu sedang kulihat. Seperti semacam sebuah ucapan terima kasih dari seorang anggota band mendunia yang sangat terkenal dalam album mereka bertahun-tahun yang lalu di awal pergantian millennium. Ini album yang sarat nilai sejarah, aku masih ingat kakakku sering mendengarkan lagu mereka dulu dan bahkan menyimpan beberapa albumnya. Hanya saja, karena aku tidak berada dalam kubu penggemar Backstreetboys saat itu, ini pertama kalinya aku melihat ada kode semacam ini dalam sapaan Nick Carter. Aku bahkan heran kenapa kakakku tidak pernah menunjukkannya padaku, ini akan menjadi permainan yang sangat menyenangkan bila dia memberi tauku bertahun-tahun yang lalu, terutama saat aku tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik.

“Ya, ini memang bukan hanya deretan angka saja yang ditulis dengan acak, .. lihatlah, dia punya pola.” Kataku mencoba memperlihatkan apa yang telah kutemukan sebelum Siwon kemudian menggeser kursinya untuk duduk di sampingku agar lebih mudah bagi kami melihat foto itu bersama.

“—Dia menuliskan deret angka yang terpisahkan dengan tanda penghubung, lalu ada deret angka yang sama diulang dua kali .. ‘843’ yang bisa berarti ini adalah kata yang sama, dia memang mengatakan sesuatu di sini .. tapi ayolah, ini terlalu mudah, kau hanya mengetesku saja kan?” ujarku kemudian menuduhnya. Aku memang belum tau pasti kalimat apa yang Nick Carter tuliskan di akhir ucapan terima kasihnya itu, hanya saja kode deret angka semacam ini kurasa cukup populer di kalangan beberapa siswa sekolah saat itu. Dan lucunya, Siwon masih terlihat belum mengerti dari raut wajahnya yang kebingungan dan dahinya yang terangkat tinggi berkerut,

 “Beri aku petunjuk, aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan.” Katanya meyakinkanku, yang kemudian membuatku menghela nafas panjang, beranjak sebentar untuk memakai kaca mataku dan mengambil secarik kertas dan juga pensil sebelum kembali ke kursiku, menyalin deret angka itu di atas kertas yang kubawa.

 

5483-5433-86-843-3855378-367-843-388873-47-722723

 

“Baiklah, Mr. Choi Siwon, lihatlah di deretan angka ini, kau melihat pola yang aneh di sana? Seperti apa yang seharusnya ada tapi tidak kau lihat, .. semacam itu.”

Siwon menatapku sesaat sebelum kemudian memindahkan matanya menatap permukaan kertas di atas meja dengan angka yang kutulis di sana, berpikir sesaat dengan bergumam “umm” pelan dan kembali menatapku ketika kurasa dia menemukan petunjuk yang kumaksud.

“Dia hanya menulis deret angka 2 sampai 8 saja, tidak ada angka 0,1 dan 9. Itu berarti sesuatu?”

Aku mengangguk menjawab pertanyaannya, “Ya, tentu saja. Tidak ada angka 9 mungkin karena tidak ada huruf yang terpakai dalam kata-katanya, tapi tidak ada angka 0 atau 1 karena biasanya angka ini hanya digunakan untuk ‘spasi’ atau tanda baca. .. Kau tidak akan bisa menemukannya bila mendekode deret angka ini dengan keypad QWERTY, tentu saja, karena semua ponsel selular di awal tahun 2000 masih memakai sistem alfanumerik. Kau mengerti kan maksudku?”

Menuliskan beberapa deretan huruf di bawah tiap angka yang kutulis di kertas itu, Siwon melongokkan kepalanya lebih dekat sebelum dia mendengus dan tertawa pelan seraya menutupi mulutnya dengan tangannya yang terkepal seolah menyadari sesuatu. Aku sengaja memberinya waktu dan kesempatan untuk mencoba mendekode pesan yang tersembunyi dibalik deretan angka itu,

“Aku yakin 86 itu ‘to’, 47 ‘is’ .. 843 ‘the’.” Katanya, yang kemudian kubenarkan dengan menuliskan kata yang ditebaknya di ruang kosong bagian bawah kertas, kembali memberinya waktu untuk mencoba lagi.

Biasanya permainan semacam ini tidak lagi membuatku begitu antusias untuk menyelesaikannya, apalagi setelah melihat sebuah kalimat yang mulai jelas terbaca di dalam kepalaku. Kode angka alfanumerik sudah sangat old-school, aku bahkan tidak berpikir masih ada orang yang menggunakannya untuk bahasa pribadi dalam era smart-phone seperti sekarang. Tidak seperti halnya ketika aku bermain game semacam Enigma atau kasus-kasus penuh teka-teki milik Leonardo da Vinci dan Sherlock Holmes yang lebih kunikmati karena lebih ‘menantang’, tapi entah kenapa kali aku menikmati permainannya, terutama saat melihat Siwon sepertinya juga ikut tenggelam dalam keseriusannya sendiri mencari kata yang tepat dalam deretan huruf yang sudah kubuatkan dan menuliskan prediksinya di ruang kosong di atas kertas yang sama.

Live life to the fullest for the future is …. sacred?” ujarnya setelah beberapa menit melingkari beberapa huruf yang berurutan dalam di bawah deret angka yang membentuk tiap katanya, sementara aku mengawasinya dalam diam, dan kemudian tersenyum menggeleng,

Scarce.. Live life to the fullest, for the future is scarce. Nikmatilah hidupmu sepenuhnya, karena masa depan adalah hal yang langka, atau maksudnya tidak datang dua kali. Bila kau memakai sacred seharusnya angkanya 722733, di sini tertulis 722723 jadi scarce lebih tepat.” Kataku kemudian menjelaskan padanya.

Siwon menggelengkan kepalanya seraya berdecak tidak percaya menatapku seolah aku telah melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, “Dari mana kau tau hal semacam ini? Waah, dan katamu kau bahkan belum pernah melihat kode ini sebelumnya, kan?” dia bertanya dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa kutebak, dan aku hanya tertawa menjawabnya dengan kedua bahu yang terangkat.

“Shinye, kau sama benar-benar sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali aku melihatmu bertahun-tahun yang lalu. Seseorang biasanya berubah seiring dengan berjalannya waktu, tapi bagaimana tidak denganmu?” katanya kemudian begitu menyandarkan kepalanya di lengannya yang tertekuk di atas meja, menatapku dengan senyumnya yang lebar.

Di sanalah aku melihat sosoknya yang dulu pernah kukenal. Aku mengingat jelas senyum itu, yang hanya dimiliki seorang Choi Siwon bersama lesung pipi yang mencekung dalam di kedua sisi pipinya tiap kali dia memamerkan senyum lebar dan tawanya dalam kekhasan tanggapannya terhadap sebuah lelucon. Dulu aku selalu menyukai senyum itu, yang tidak pernah gagal membuat pipiku langsung bersemu merah tiap kali menatapnya, dan entah bila kali ini sensasi yang sama juga terjadi jadi sebelum Siwon melihatnya cepat-cepat kusamarkan seolah aku sedang membenarkan letak kaca mataku. Tapi entah bagaimana, kuharap aku salah, perasaanku mengatakan kalau refleks tanganku tidak cukup cepat menyembunyikan apa yang kuperlihatkan dari wajahku karena Siwon kemudian terkikik dan menarik sandarannya seraya menepuk-nepuk kepalaku pelan.

Dia lalu beranjak begitu menatap jam tangannya dan mengetahui jam sudah lewat tengah malam, aku juga tidak menyangka saat-saat bersamanya bisa begitu intens hingga tanpa kami sadari moment ini berjalan cepat dan meluncur begitu saja melewati ruang waktu yang terbekukan dalam rangkaian obrolan dan tawa tanpa jeda.

Aku memakai mantelku dengan cepat dan berjalan memimpin jalan menuruni tangga begitu taksi yang kami pesan membunyikan klaksonnya dari depan flat sementara membantu Siwon memakaikan syalnya,

“Kevin akan menjemputmu di kantor besok dan kita akan makan siang bersama, kau bisa meluangkan waktu, kan?” dia bertanya begitu kembali padaku setelah memberi tau supir taksi tujuannya dari jendela seberang kursi kemudi, aku memang ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengannya selama dia di sini bila kami bisa melakukannya, jadi kujawab pertanyaannya itu dengan anggukan setuju tanpa berpikir lama,

“—Baiklah, bagus sekali. Terima kasih banyak untuk makan malamnya, aku sangat berterima kasih kau bersedia menerimaku di flatmu yang nyaman itu, .. sampai jumpa besok.”

“Sampai besok,”

Kulepaskan genggaman tangan dengan berat hati seraya menunjukkan senyum terbaikku sementara melepas kepergiannya, ketika kupikir Siwon akan segera pergi begitu berpamitan, aku kembali dikejutkannya saat tiba-tiba saja dia mendaratkan satu kecupan kilat di bibirku yang membuat mataku terbelalak sementara Siwon masih tersenyum lebar dengan ekspresi kemenangan,

“Untuk apa itu?” tanyaku masih dalam sengatan listrik syok dengan tangan melingkar di belakang leher yang seketika kaku, terutama karena angin malam yang bertiup membekukanku,

One kiss to find me, as promised. Sampai besok, bye.” Dan dia berlalu begitu saja masuk ke dalam taksi.

 

 

* * *

 

composed by kimchidee@hallyucafe

 

This entry was posted in Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
  • http://integralparsial.wordpress.com weaweo

    Oh God~ masa waktu Siwon nyentil hidungnya Shinye, berasa aku yang disentil #kicked hahaha XD
    Jadi Siwon sama Shinye udah putus ya? Yaaa~ kirain masih pacaran >< Hihihi~
    Siwon is too sweet~ suka banget sama kata-katanya sebelum pergi. Masih inget dia, hahaha :D
    Nice story unnie, chapter 3 chapter 3~! Kekeke^O^

    Aku jawab komen yg dulu di sini aja sekalian deh :P
    Untuk akhir-akhir ini baru siap-siap balik di sana unn, pasca UAS nanti baru mau post FF hihihi X)

  • http://twitter.com/chisselicious VIYUNITA ♥

    cute ^^