[Fan Fiction] Catch Me If You Can – Chapter 1

[23 Januari 2012]

Cling!

Kuturunkan buku Atul Gawande yang sedang kubaca begitu mendengar suara dari iPhone yang memberitauku bahwa seseorang telah mengirimkan pesan. Sengaja merangkak dengan malas di atas tempat tidur kuraih ponselku itu di atas meja dan mengeceknya, menemukan sebuah pesan di KakaoTalk baru saja kuterima.

I’ll kiss you to find me.

Kedua alisku bertaut, sekali lagi kubaca pesan itu sambil mengamati sebuah foto yang dia kirim bersamaan dengan pesan yang ditulisnya. Kenapa Siwon tiba-tiba saja ingin bermain game detektif tanpa ada angin dan hujan begini, tanyaku sendiri heran.

Is Choi Siwon a man of his word?

Kuketik kalimat itu membalas pesannya, menggoda. Ini kukatakan karena aku yakin bisa menemukannya, dan yang ada di kepalaku saat ini adalah bagaimana dia akan memenuhi janjinya bila kami terpisah dua benua dengan jarak beribu-ribu mil jauhnya. Aku mulai berpikir ini adalah caranya untuk memulai obrolan denganku setelah beberapa minggu vakum komunikasi, tapi harus kuakui caranya kali ini sangatlah basi. Kupikir seharusnya dia bisa melakukan sesuatu jauh lebih baik daripada ini, bukan hanya sekedar permainan tebak-tebakkan yang begitu ringan dan tidak berarti apa-apa.

Catch me if you can! =)

Senyumku kembali tersungging lebar. Choi Siwon sepertinya sengaja menggodaku, dia tau aku menyukai hal seperti ini sejak dulu, dan sejak pertemuan terakhir kami di Seoul dua bulan yang lalu topik obrolan kami tidak pernah jauh-jauh dari bagaimana mendekode sebuah simbol, juga kesukaan kami terhadap kisah detektif dan karya-karya Dan Brown. Tapi … baiklah, karena soreku sudah cukup membosankan hari ini, aku memutuskan untuk menerima tantangannya. Masih sedikit malas karena seharian aku menghabiskan hari di dalam kamar, akhirnya aku turun dari tempat tidurku untuk menyalakan komputer di meja sudut ruangan.

Dengan cepat kutransfer foto yang Siwon berikan padaku ke komputer dan mengamatinya dengan seksama.

Foto itu menunjukkan tujuh buah pilar yang berdiri, sepertinya bersandar pada sebuah tembok. Bila melihat bentuknya, aku memiliki beberapa tebakan tempat yang mungkin bisa memberitauku di mana ciptaan seperti ini berada. Desain pilar semacam ini biasanya dibuat sebagai interior desain sebuah klub malam, restoran, hotel, galeri seni, atau museum. Tapi perkiraanku kusaring hanya dua yang terakhir karena kalimat yang tertera di pilar itu bukan sesuatu yang akan kau lihat dia klub malam ataupun hotel.

Begitu menyambungkan komputer pada internet, aku segera mencari tau semua pameran yang saat ini sedang diadakan di Seoul. Membuka situs Seoul Art Center dan mengupas habis tiap jadwalnya bulan itu, lalu ke SNU museum gallery, hinggaSamsung Museum of Art tapi pilar itu tidak ada dalam daftar karya pameran mereka. Tidak menemukan apa yang kucari, aku kembali menatap foto itu dan mengamati tiap kata yang tertangkap di kamera,

…t when her health and exubera .. n ..t .. exuberant ..? Ah tidak, ini kata benda,exuberance..” gumamku pelan membaca kalimat dari lampu LCD yang terpancar di sepanjang tujuh pilar itu.

Kuketik penggalan kalimat itu di google dengan kata terakhir yang kutebak-tebak apa adanya dan menemukan kata-kata yang kuketik tersambung dalam sebuah kalimat, linkyang kuklik menghubungkanku pada sebuah dokumen milik Computer Science Department di University of Texas di Austin. Frase itu ternyata adalah penggalan bait pertama sebuah puisi milik Jenny Holzer yang berjudul Living.

IT IS UNFAIR TO TEAR SOMEBODY APART

WHEN HER HEALTH AND EXUBERANCE

THREATEN YOU.

Aku kembali berpikir, nama Jenny Holzer sama sekali tidak asing di kepalaku. Mencari namanya lagi google, aku menemukannya sebagai seorang artis konseptual berkebangsaan Amerika yang memiliki ruang galeri atas namanya sendiri di beberapa galeri seni di Eropa. Dari penjelasan biografi singkat yang kutemukan di salah satu dokumen perpustakaan online Universitas Oxford, aku menemukan daftar karyanya dari karya sastra, lukisan hingga permanent displays yang dipamerkan sejak belasan tahun yang lalu. Mataku berhenti pada sebuah karya pameran berjudul “Blue Purple Tilt” yang dipamerkan di Modern Tate sejak tahun 2007. Judulnya saja sudah menggambarkan foto yang Siwon berikan padaku, dan bila yang kuduga memang benar, … tapi tidak mungkin. Saat ini Super Junior sedang sibuk bepergian berkeliling dunia untuk konser Super Show mereka, jadi tidak mungkin bila salah satu anggotanya tiba-tiba saja sudah ada di London dan, .. ini hanya tidak mungkin.

Antara ragu dan pensaran, aku berpikir apakah perlu benar-benar mencari tau di mana dia berada saat ini. Ketika kubuka situs Modern Tate, sebuah museum seni modern yang menyimpan koleksi seni nasional sejak abad ke-16 ini, aku sungguh tidak menyangka akan menemukan karya Jenny Holzer itu benar-benar terpampang di sana, tujuh pilar berwarna biru itu berada di London!

Ini mungkin adalah sebuah joke paling daebak yang pernah orang berikan padaku, atau lebih tepatnya, yang pernah Siwon berikan, dan mulutku hanya bisa menganga lebar ketika pada akhirnya aku mengecek timeline twitternya dan menemukan beberapatweet dengan foto-foto yang diuploadnya kemarin, salah satu di antaranya memperlihatkan the Ivanhoe Suite, sebuah hotel terkenal di area West End, dan itu jaraknya hanya sekitar 20 menit dari tempatku tinggal.

Begitu menyadari apa yang terjadi, buru-buru aku mematikan komputer sebelum kemudian loncat dari atas kursi, dengan cepat memakai celana jeans, cashmerepanjang dan mantel kulit untuk menghangatkan badanku dari bekunya hawa musim dingin eksrim di luar, lalu menyambar tas dan syal di sofa ruang TV bergerak secepat mungkin keluar flat.

Di dalam taksi kurapikan pakaianku dengan memakai syal, aku sama sekali tidak punya waktu untuk menyisir rambut jadi kubiarkan saja gelombang panjang itu terurai di belakang kepalaku dan menutupnya dengan benie wool yang, untungnya, kutemukan berada di dalam tasku menyembunyikan kekacauan yang belum sempat kubereskan.

“Terlambat datang?” sang supir taksi bicara denganku dari kaca spion, sepertinya dia heran melihatku yang sibuk sendiri merapikan diri sejak masuk ke dalam taksinya sementara aku hanya tersenyum lebar dan mengangkat kedua alisku,

“Seseorang teman lama mendadak muncul di London dan memaksaku keluar dari flat setelah seharian bermalas-malasan, .. hari yang sama sekali tidak terduga.” Kataku menjawab pertanyaannya seraya membenarkan sepatu boot dan menarik resletingnya tinggi ke bawah lutut, menghangatkan kakiku yang sempat terasa agak membeku ketika berjalan mencari taksi.

“Yeah, aku tau bagaimana rasanya.”

Aku tertawa dan mengalihkan pandanganku keluar jendela mengakhiri obrolan singkatku dengan sang supir taksi yang membawa mobil ini menyusuri Kensington Road danHyde ParkTate Modern sebenarnya tidak begitu jauh dari tempat tinggalku, hanya sekitar 20 menit perjalanan bila ditempuh dengan mobil pribadi atau taksi. Tapi karena saat itu Eric Clapton sedang akan tampil di Hard Rock Cafe sementara sang supir sudah terlanjut mengambil jalur Piccadilly, dan karena aku masih belum familiar dengan jalanan di kota London, kami hanya bisa membiarkan barisan mobil bergantian dengan antrian panjang orang-orang yang akan ke cafe dari pinggir jalan selama hampir lima belas menit menit, hingga akhirnya gedungnya sudah mulai terlihat ketika kami menyeberangi sungai Thames dari jembatan Blackfriars.

Aku masih belum bisa mempercayai yang sedang terjadi saat ini. Berulang kali aku mengecek ponselku bila Siwon mengupdate kembali twitternya, atau bila dia kembali berusaha menghubungiku melalui KakaoTalk, hanya kutemukan tak ada satupun pesan darinya sama sekali. Entah apa maksudnya kali ini, dia benar-benar berada di London entah sedang apa tanpa memberi tauku sebelumnya, dan yang ada di dalam kepalaku adalah banyak sekali pertanyaan kenapa dan kenapa.

Ketika supir taksi menurunkanku di drop point di depan museum, aku bergegas berlari masuk ke dalam gedung yang megah itu. Dari iPhoneku kembali aku mengecek situs Tate Modern, dan naik lift ke lantai 5 di mana galeri Jenny Holzer berada. Sebenarnya aku tidak yakin bila dia masih berada di sini, jaraknya sudah lebih dari satu jam sejak Siwon mengirimkan pesannya untuk pertama kali tadi. Dia bisa saja telah meninggalkan museum ini dan berpindah ke tempat lain karena terlalu lama menunggu, atau mungkin dia memang tidak menungguku sama sekali. Kalau kupikir lagi tadi dia sama sekali tidak menyebutkan bahwa aku perlu menyusul ke mana dia berada, dan sejak terakhir kali kami saling mengirim pesan, sama sekali tidak ada obrolan lain untuk mengakhiri permainan ini. Aku baru saja hendak menulis pesan lagi padanya menanyakan keberadaannya ketika kudengar suara seruan beberapa orang dari balik koridor, yang menarik perhatianku adalah suara seruan itu terdengar begitu bersemangat, bila mereka tengah menyaksikan sesuatu yang begitu menakjubkan dan tak terduga. Mengintip dari balik tembok, aku melihat Siwon berdiri dikelilingi dua orang gadis sedang mengobrol padanya, sepertinya para penggemar pintar yang memenangkan sayembara yang ternyata juga Siwon lancarkan di akun twitternya. Dari tempatku berdiri aku menunggunya mengobrol dengan para gadis itu dan berfoto bersama mereka ketika dia menangkap sosokku melongok ke arahnya.

Dagunya terangkat tinggi, dengan melipat bibirnya tertutup rapat sambil tersenyum, Siwon bertepuk tangan menyuruhku menghampirinya.

Yogsi, Shanon Kim..” Ujarnya seraya merengganglan lengannya dan menangkap tubuhku ke dalam pelukannya.

“—Otakmu bekerja sangat lambat ya, kupikir seharusnya kau bisa lebih cepat daripada ini.” Katanya lagi melanjutkan sebelum kemudian mengenalkanku pada para penggemarnya yang masih berada di sana dan kedua temannya yang lain begitu kukatakan padanya alibiku, bahwa pertunjukkan Eric Clapton di Hard Rock Cafe adalah penyebab keterlambatanku ke sini.

Dua teman Siwon adalah seseorang bernama Kevin Woo dan adik perempuannya Stacey, yang konon kerabat dekat salah satu manager Super Junior dan telah lama tinggal di London. Kami mengobrol beberapa saat sementara Siwon ‘melayani’ dua penggemarnya bertanya jawab, membahas rute yang kuambil tadi saat menuju ke Tate Modern (ternyata bila tadi supir taksiku berbelok melewati Pall Mall dari Hyde Park corner daripada melewati jalur Piccadilli sebenarnya akan lebih cepat sampai karena lebih dekat) dan juga tentang beberapa tempat yang harus kuketahui sebagai penghuni baru kota ini.

“Aku sudah seminggu berada di London, tapi dua tempat yang kukunjungi di luar kantor hanyalah Christie dan Sotheby,” ceritaku pada mereka ketika dua kakak beradik itu menanyakan pekerjaanku sebelum kemudian ganti bercerita tentang kehidupan mereka. Sebenarnya aku masih ingin melihat-lihat karena ini adalah kunjungan pertamaku di Tate, tapi karena museum ini hanya buka sampai jam 6 sore jadi kami harus segera pindah ke tempat lain untuk melanjutkan obrolan. Atau setidaknya itulah yang kupikirkan, karena ketika kami keluar Kevin dan Stacey ternyata berpamitan pergi,

“Kita tidak pergi bersama?” Tanyaku sedikit bingung melihat Siwon menggiringku ke arah pick up point taksi sementara kedua temannya menuju area parkir mobil,

“Ada yang harus mereka lakukan, .. Hei, katakan padaku, permainan hari ini menyenangkan?”

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, memiringkan kepala berpikir aku bergumam pelan menunjukkan ketidak setujuanku. Siapapun pasti akan mengatakan kalau petunjuk yang diberikannya terlalu mudah untuk serbuah permainan detektif ala Choi Siwon, dan itulah yang kukatakan padanya.

“Sebenarnya permainan ini akan lebih menarik bila kau memberi pentunjuk lain yang lebih randomreverse stairs itu tadi contohnya.. Kalimat yang muncul di blue purple tiltitu terlalu mudah ditebak,” ujarku menambahkan, dan permainan ini juga semakin tidak menarik lagi di mataku begitu aku tau dia menantang para penggemarnya dengan foto yang sama di twitter. Kurasa kenyataan bahwa aku bukanlah orang pertama yang menemukannya di sana agak sedikit membuatku kecewa, meski aku tau keterlambatan itu bukanlah kesalahanku.

“Tapi tidak akan seru bila aku memberi kalian petunjuk yang lain,”

Kedua alisku terangkat mendengar kalimatnya, menuntut penjelasan karena sungguh aku tidak dapat mengerti maksudnya.

“–Kau tidak menyadarinya?” Siwon meninggikan suaranya, terlihat terkejut karena aku masih belum dapat menangkap isiniatifnya, dan aku menggeleng,

“–Blue purple Tilt! Saphire blue, warna kebangsaan Super Junior!”

Oh yeah right, kini aku mengerti kenapa kakakku dulu selalu berkata bahwa Siwon berasal dari galaksi Andromeda, pemikirannya seringkali tidak bisa kami mengerti. Bahkan hingga saat ini pun aku masih belum bisa memahami bagaimana warna saphire blue di blue purple tilt pengaruhnya bisa begitu besar pada niatan pemilihan teka-tekinya, kadang melihat kesederhanaan cara berpikirnya benar-benar membuatku ingin menggigitnya karena gemas.

Tapi kemudian ada hal lain yang muncul di dalam kepalaku, satu pertanyaan yang mengendap di dalam otakku sejak awal kutau dia berada di London, .. Apa yang dilakukannya di sini?

“Akhirnya kita bertemu lagi,” katanya kemudian, setelah jeda beberapa detik dipenuhi keheningan.

“Ya, .. Apa yang membawamu kemari? Kau menguntitku?”

Aku mungkin terdengar sangat blak-blakkan saat ini, hanya saja bila mengingat pembicaraan terakhir kami dua bulan yang lalu sebenarnya pertanyaanku bukan hal yang akan mengundang alis bertaut. Tapi yang kulihat saat ini, bukanlah jawaban yang kudapatkan, Siwon mendengus tertawa. Membasahi bibirnya, yang kutau sebagai hal yang hanya dilakukannya bila tertangkap basah melakukan sesuatu yang buruk dan ingin menyelamatkan diri, dia membukakan pintu taksi untukku dan menyilakanku masuk lebih dulu sebelum kemudian naik ke dalam mobil dan duduk di sampingku untuk mengalihkan perhatian,

“Mau ke mana kita sekarang?” Tanyanya ketika sang supir menanyakan tujuan kami begitu taksi keluar jalan besar.

Baiklah, bagaimana aku menjawab pertanyaan ini? Kalau saja dia memberitauku terlebih dulu kedatangannya dari jauh-jauh hari, aku mungkin telah mempersiapkan daftar tempat-tempat yang akan kami kunjungi bersama sebagai turis asing, hei, bahkan meski secara resmi aku akan mulai menjadi residen tetap di kota ini, aku masih saja sah disebut sebagai turis untuk beberapa saat ini. Kenyataannya aku memang belum sempat meluangkan waktu untuk mengeksplor seluruh isi kota London, jadi aku hanya bisa mengangkat bahu menjawab Siwon,

“Ke mana kau ingin pergi?” tanyaku balik,

Siwon menggaruk alisnya dan berpikir sesaat, “Sudah saatnya makan malam, kan? .. bagaimana kalau kita ke apartemenmu? Kau bisa menunjukkan tempat di mana kau tinggal, lalu kita bisa masak makan malam dan mengobrol ..”

“Ke apartemenku?”

“Hum-um, kau keberatan?”

Aku menimbang-nimbang apakah ide ini baik atau tidak. Bukannya karena Siwon akan berkunjung ke tempat di mana aku tinggal seorang diri, sebenarnya bila saja ketenarannya di London tidak sebesar .. umm, oke, di mana kira-kira negara yang tidak mengenal Super Junior? .. pokoknya bila saja ketenarannya tidak sebesar ini di London, tanpa penggemar yang secara random dapat mengenalinya begitu saja tiap kali pergi ke suatu tempat, kurasa pergi ke manapun berdua bersamanya tanpa dicurigai ini dan itu tidak akan menjadi masalah. Bila saja Siwon tidak pernah menjadi anggota Super Junior, dia bisa bebas berkunjung ke flatku dan aku bebas menemuinya di manapun kapan saja sesuka kami .. sebentar, rasanya aku berpikir terlalu jauh. Kuyakinkan diriku kunjungan ini akan tetap anonymous dan tidak akan ada orang yang mengenali kami bersama, setidaknya satu hal yang membuatku yakin adalah karena melihat Siwon tidak terlihat waswas saat mengutarakan idenya, ini berarti memang segalanya akan baik-baik saja. Semoga.

Hello? .. Earth’s calling Kim Shanon,

Tatapanku yang kosong seketika kembali fokus menatapnya. Baiklah, kalau berkunjung saja tidak masalah, toh kami hanya akan makan malam dan mengobrol bersama seperti yang sudah-sudah. Aku akan menganggapnya sebagai penebusan rasa bersalahku karena tidak dapat menyumbangkan ide tempat yang oke untuk hang-out, ini kenapa aku sangat berharap Kevin dan Stacey ada bersama kami. Setidaknya sebagai orang-orang yang telah tinggal lama di London, mereka pasti punya banyak referensi tempat untuk duduk dan mengobrol bersama. Jadi aku mengangguk setuju mengiyakan idenya dan memberitaukan alamat flatku pada sang supir taksi agar dapat mengantar kami ke sana,

29 Courtfield Road, please, Sir,” kataku, kemudian menoleh kembali pada Siwon, “Kau ingin makan apa?”

Siwon mengangkat bahunya kembali tidak punya ide, “Entahlah, apa yang biasanya orang Inggris makan untuk makan malam?” katanya menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya.

“Humm, .. kudengar kare sedang menjadi tren saat ini. Mereka mencampurnya dengan sayuran dan daging, lalu memakannya bersama nasi atau pasta.” Saat mengatakannya aku merasa bangga sekali, setidaknya aku telah belajar baik mengenai kehidupan sehari-hari para penduduk London dengan melakukan penelitian kecil-kecilan di internet jauh-jauh hari sebelum mendarat di kota ini. Aku jarang mencobanya terus terang saja, cita rasa masakan India bukanlah favoritku, dan ketika Siwon meminta menu lain karena terlah banyak mencoba berbagai macam kare saat di Malaysia, di dalam hatiku merasa begitu lega karena tidak perlu mencicipi makanan yang rasanya begitu aneh di lidahku. Setelah menghabiskan hampir setengah perjalanan hanya untuk menentukan menu, akhirnya kami memilih untuk memasak makanan sederhana yang merupakan menu tradisional makan malam orang-orang Inggris, ‘Meat and two Vegs’.

Aku meminta supir untuk menurunkan kami di Tesco Express, sebuah supermarket yang letaknya di pertigaan jalan Courtfield dan Gloucester tak jauh dari flatku untuk berbelanja beberapa sayuran dan bahan makanan lainnya untuk kami berdua. Sesuatu tentang sikap Siwon cukup membuatku heran ketika kami berada di sana, dia memang tidak berusaha menyembunyikan jati dirinya dengan menaikkan kerah mantel atau menutupi sebagian wajahnya agar tidak mudah dikenali seperti ketika kami di Seoul dulu, tapi di saat yang sama dia tidak berusaha untuk bicara padaku dengan bahasa Korea dan sebagai gantinya menggunakan bahasa Inggris sepanjang waktu ketika memanggilku, atau menanyakan sesuatu bila ada orang asing di dekat kami.

Dalam seketika tiba-tiba saja Siwon menjadi seseorang yang banyak bicara, seolah sengaja memamerkan kemampuan bahasa Inggrisnya padaku, mengomentari suasananya yang sangat berbeda dengan semua kota yang pernah dikunjunginya di belahan dunia ini, mengagumi gedung-gedung bergaya Victorian dan Georgian yang khas akan peradaban lama Anglo Saxon juga keindahan lainnya.

“Orang-orang di Inggris tidak terbiasa menyebut apartemen dengan ‘apartemen’, di sini kami menyebutnya dengan ‘flat’. Sama saja sih, yang berbeda hanya penggunaan istilahnya saja, .. seperti bila orang Inggris menyebut bensin sebagai ‘petrol’ dan orang Amerika menyebutnya ‘gasoline’.” Kataku menjelaskan ketika dia bertanya kenapa aku selalu mengoreksi kata-katanya saat menyebut ‘apartemen’ tiap kali merujuk pada tempat tinggalku.

“—Di sini cukup nyaman. Kensington termasuk daerah residensi yang cukup berkelas, sebenarnya kalau bukan karena kantor yang membiayai flatku, aku mungkin tidak akan mampu tinggal di tempat seperti ini. Semuanya serba mahal di London, ..”

Siwon mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, dan berdiri mendampingiku begitu selesai berbelanja. Kami berbagi satu paperbag dibawa masing-masing sementara keluar Tesco dan berjalan melewati La Liaison dan Bombay Brasserie, dua restoran Italia dan India yang berdiri saling berseberangan begitu akur, kemudian menyusuri jalan Courtfield menuju flat.

“Lalu bagaimana kau ke kantormu tiap hari?” Siwon bertanya lagi beberapa saat kami berjalan.

Tube,” jawabku singkat, mengatakan sebuah istilah yang orang London pakai untuk menyebut kereta bawah tanah. “Aku masih belum terlalu familiar dengan jalanan London, jadi sementara ini Tube yang paling aman. Kau lihat bangunan besar di samping Gloucester Arcade sebelum kita berhenti di Tesco tadi? Yang bentuknya seperti gereja? Itu stasiunnya, .. dekat sekali. Untuk ke kantor aku hanya perlu naik Circle line dan turun di St. James, hanya tiga stasiun saja. Stasiun Gloucester Road melayani tiga jalur sekaligus; Circle, District dan Piccadilli. Jadi dari sini aku bisa pergi hampir ke semua pusat turisme dan komersial di kota London tanpa harus ganti jalur, .. bahkan ke bandara Heathrow.”

Aku menggiringnya ke deretan apartemen berbentuk Townhouse berwarna merah bata, satu-satunya yang berada di area Kensington Selatan, menyapa sepasang suami istri yang tinggal di lantai bawahku sedang berjalan menuju mobil mereka sebelum kemudian akhirnya sampai di depan flat kami.

“Jadi begini ya.. Ketika kau katakan padaku flatmu di lantai dua, tadinya aku bertanya-tanya bagaimana cara kita naik ke atas sementara aku tidak melihat ada tangga di depan,” ujarnya ketika kulihat dia membuka mulutnya lebar dan menggumam ‘ah’ pelan begitu kami memasuki pintu depan. Sebuah tangga yang berliku di sudut koridor berdiri tegak untuk menjembatani jalan kami dari pintu depan hingga ke lantai empat, pada dasarnya Townhouse, atau begitulah tipe gedung ini disebut, hampir sama saja seperti gedung apartemen lainnya, hanya saja tanpa lift dan satu lantai hanya berisi satu flat saja.

Lebih dulu aku memimpin naik tangga, lalu membuka kunci pintu flat dan menyambutnya di rumah baru dengan senang hati,

“Selamat datang di Kensington,”

* * *

 

Sebuah FF yang terinspirasi dari timeline twitternya Siwon selama dia di London bulan Januari lalu, ketika dia ngajakin maen game, cerita di atas adalah apa yang aku lakukan saat itu .. yeaah, I love riddles XD

Komentarnya jangan lupa ya,,

~xoxo.

This entry was posted in CYWorld/Fancafe/Me2Day/Twitter, Fan Fiction, Romance and tagged . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
  • http://integralparsial.wordpress.com weaweo

    Annyeong unnie ^^
    Waw, pertama baca aku kagum sama unnie. Unnie risetnya sangat mendalam u,u Ampe kayak tahu jalan-jalannya kekekeke~ Apa unnie pernah ke London? Keren deh pendeskripsiannya uuu >//<
    Ceritanya bikin penasaran. Lanjut ya unn :p Sebenarnya aku bisa sih baca di FFindo~ tapi enakan baca di sini #gubrak hahaha XD
    Salam kenal ya unnie ^O^ Aku jga author di FFindo, hihihi :3

    • http://kimchidee.wordpress.com/ kimchi.dee

      waa, thanks ya, hehe..
      iya sih kalau di FFIndo memang udah sampai chapter 2, lusa deh aku upload chapter selanjutnya ^^
      kamu masih aktif di sana?

  • alya

    serasa jalan2 di london beneran deh :D
    deskripsi tempatnya keren !

  • http://produksi-film.com Alfha

    keren! lanjutin ya.. :-)
    Hwaiting!

  • http://sweetchilice.wordpress.com/ sweetchilice

    Waa…
    Sampe ke jenis bangunan di Londonnya aja tau…
    Cara naik kereta, jalannya aja tau
    Author pernah ke London ato googling? ckckck
    Ini daebak deh intinya… :D

  • http://twitter.com/chisselicious VIYUNITA ♥

    keren deh~ suka detail ceritanya ^^v berasa jalan2 ke london beneran jadinya… hoho :)