[Fan Fiction] – Liar (Chapter 7)

Liar (Foreword)
Liar (Chapter 1) , Liar (Chapter 2), Liar (Chapter 3) , Liar (Chapter 4)
Liar (Chapter 5), Liar (Chapter 6), Liar (Chapter 7) , Liar (Chapter 8) ,
Liar (Chapter 9) , Liar (Chapter 10), Liar (Chapter 11), Liar (Chapter 12), Liar (Chapter 13) , Liar (Chapter 14), Liar (Chapter 15), Liar (Chapter 16),
——–

 

DARA POV

Dua minggu sudah kejadian di kantin itu terlewati. Semua orang tampaknya mulai berhenti membicarakan keributan waktu itu. Beberapa dari mereka bahkan menyebutnya sebagai ‘tragedi kantin berdarah’ =.=” Yeah, hanya Wooyoung yang berdarah sebenarnya, tapi semua orang yang ada di kantin tampaknya menyaksikan secara jelas bagaimana jiyong sukses memukul Wooyoung hingga hidungnya patah. Ada korban dan tak ada guru satupun yang menyaksikan kejadian itu. Hebat.

Kini, dua minggu lebih sejak kejadian itu, Wooyoung masih harus bolak balik ke rumah sakit untuk memeriksakan hidungnya. Katakan aku sebagai orang yang jahat, tapi aku benar-benar resmi putus dengannya seminggu yang lalu, saat menemaninya memeriksakan hidungnya. Aku katakan keputusanku untuk tidak memperpanjang lagi hubungan ini.

Kau tahu, ada kalanya kau benar-benar harus memilih. Putus cinta itu sangat menyakitkan jika kau menjalaninya dengan sangat serius sebelumnya. Tapi hidup adalah pilihan dan aku telah memilih untuk berhenti dalam hubungan ini. Egoisnya diriku, alasanku putus dengannya bukanlah karena aku tak enak hati pada Chaerin, tapi lebih untuk mengurangi beban diriku saja.

Kumohon mengertilah, aku tahu Wooyoung orang yang baik, ia bahkan memiliki perasaan cinta yang besar padaku yang tidak ia miliki untuk Chaerin. Tapi hidup ini tak melulu membicarakan cinta. Hidup terlalu keras jika hanya kau habiskan untuk kisah cinta picisan seperti dalam novel atau fan fiction yang sering kubaca. Bayangkan, dari 24 jam dunia berputar dalam sehari, 9 jam kuhabisakn d sekolah, 4 jam mengurus keperluan pribadiku, 5-7 jam bekerja setiap hari baru sisanya aku beristirahat. Well, walau setelah aku menari streaptease , pendapatanku bertambah dan jam tidurku pun lebih banyak.

Kembali pada Wooyoung, ia yang tadinya kupikir akan menolak habis-habisan seperti yang lalu, ternyata menerima pernyataanku hanya dengan satu kata ”baiklah” ujarnya kala itu.

Mengerti jika ia tak akan berbicara lagi aku hanya memeluknya dan berbisik padanya “terima kasih.. aku berjanji kita akan baik-baik saja…”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Hari ini, di sekolah..

“Apakah kalian putus?” Deg. Jantungku berdetak keras saat membaca pertanyaan dari Chaerin yang ia lemparkan dalam secarik kertas di tengah pelajaran bahasa inggris siang itu. Kulirik Chaerin yang duduk di dua bangku di belakangku “cepat balas” mulutnya mengisyarakan kalimat tersebut.

Apa yang harus kulakukan? Darimana ia tau? Apakah ia marah? Zzzzz demi Tuhan mengapa ia harus bertanya hal ini sekarang???? Kusobek secarik kertas baru dan menuliskan jawabanku,

“Putus? Apa maksudmu” tulisku dengan jawaban pura-pura tak menegrti. Kucolek Heechul yang duduk di belakangku dan mengisyaratkan kata “untuk Chaerin”

Dalam satu menit kertas balasan dari Chaerin sudah kembali padaku. “Kulihat kalian tak saling bicara. Maafkan aku tapi kuharap kalian benar-benar sudah putus ><” Oh ya ampun… TT_____________TT bagaimana ini? Dengan tebal muka aku kembali menyobek kertas baru

“bagaiaman bisa putus jika aku tak pernah berpacaran dengannya” sekali lagi kujawab dengan tanpa dosa. Heechul yang tampaknya sudah mulai terganggu dengan pekerjaan dadakannya sebagai tukang pos sukarela menepuk pundakku dengan sedikit bernafsu saat akan memberikan kertas balasan dari Chaerin.

“Aw!!!” teriakku saat Heechul melakukannya. O.O seisi kelas mengalihkan perhatian mereka padaku.

“Ada apa miss Park?” Tanya Mrs Lee Oh Kyung yang saat itu sedang berkonsentrasi menulis soal-soal bahasa inggris di papan tul;is.

“eh.. eh.. kakiku digigit nyamuk, maaf” jawabku sambil berdiri dan membungkuk meminta maaf pada Mrs Oh Kyung dan pada teman yang lain. Hehe, ibu guruku hanya menggeleng dan kembali memusatkan perhatiannya pada papan tulis. Dengan was-was kutunggu hingga semua orang kembali berkonsnetrasi pada pelajaran dan tak ada yang memperhatikanku. Aku menghadap Heechul yang dibalasnya dengan tawa tak bersuara sambil menjulurkan lidahnya padaku. Aiishhh..

=.=

Cepat-cepat kuambil kertas yang ada di mejanya dan kubuka perlahan-lahan seakan secarik kertas itu akan kembali menghebohkan kelas.

“Jadi, mana yang benar? Kau pacaran atau tidak dengan Jiyong?”

Ahahahha!!! Ternyata Jiyong!!!

Eh?

(<___< ) ( >___>) (<___< ) ( >___>) ( >_< ) (;____;)

Pabo!Pabo! Aku tak sadar menyarakannya dengan keras. Kini seisi kelas kembali mengalihkan perhatian mereka padaku, hikz… termasuk orang yang namanya baru saja kusebut. Aku tak berani meiliriknya, matanya melotot padaku seperti mau keluar dari cangkangnya ><

“Miss Park, apakah kali ini kau digigit nyamuk bernama Jiyong?” tembak Mrs Oh yang langsung dibalas teriakan protes dari Jiyong

“Ya! Mana ada aku sentuh dia! Enak saja kalau ngomong” kata Jiyong pada Mrs Oh tapi pandangannya menuju padaku. Bodoh kau Jiyong.

Mata Mrs Oh membelalak mendengar kata-kata Jiyong dan langsung mendekati tempat duduknya “Jiyong sshi, apakah kau baru saja memanggilku dengan sebutan ‘ya’?!!!” Suaranya marah tapi ia melakukannya dengan nada rendah. Jiyong tidak menjawab, ia hanya melipatkan kedua tangannya di dada dan menatap lurus ke papan tulis di depan.

“Kau tidak menjawabku Kwon Jiyong? Berdiri ke depan!” kata Mrs Oh sambil menepuk mejanya.

“Tapi kenapa harus aku, kan bukan aku yang berteriak-teriak awalnya tadi. Mana ia melakukannya sambil surat-suratan” Ia menunjukkan posisiku yang ada di sebelah kirinya dengan gerakan lehernya. Matanya kembali menatap tajam padaku.. =.= rasanya secara tak kasat mata, roh nya sedang mencabuti bulu mataku.

“Ah.. Park sandara” Mrs Oh kali ini bergerak ke mejaku

“Ya..” jawabku lirih

“Aku bukan tidak tahu kau sejak tadi tidak memperhatikan pelajaranku, kemarikan kertas mainanmu padaku!” O-ow.. dia tahu sejak tadi ternyata.. “cepat kemarikan sandara”

Sedetik aku berpikir untuk menelan saja kertas itu tapi tidak ada gunanya jadi kuberikan pada Mrs Oh kertas terakhir yang ditulis Chaerin dan belum sempat kubalas. Mrs Oh membacanya “Siapa yang memberikan kertas ini padamu?” Tanya Mrs Oh lagi

“itu..” kulirik sekilas Chaerin yang menunduk dan memejamkan matanya berharap aku tak menyebutkan namanya. “tidak dari siapa-siapa..” kataku lemas, pasti aku bakalan kena…

“detensi! Kau dan kwon Jiyong harus melakukan detensi setelah bel berbunyi” Tuh kan!! Guru galak macam itu hal sepele pun dipermasalahkan besar-besaran. =.=”

“kenapa aku!!!” kudengar teriakan protes dari Jiyong.. Ups, aku lupa jika Jiyong terbawa-bawa gara-gara aku menyebutkan namanya tadi.

“Selama kau terus berbicara padaku dengan nada tak patut seperti itu, kau tidak akan terlepas dari hukuman, detensi untuk kalian berdua!” kata Mrs Oh menutup pembicaraan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


“kau berhutang banyak sekali padaku sandara..” bisik Jiyong disela-sela kegiatan kami saat menjalani detensi dari Mrs Oh sepulang sekolah. Kami diharuskan menulis “kami berjanji tidak akan berteriak saat jam pelajaran di kelas” sebanyak eh maksudku selama dua jam! Cukup mudah sebenarnya jika kami menulisnya di atas kertas atau di buku catatan kami dan nanti dikumpulkan, tapi saying.. Mrs Oh berdalih bahwa ia sangat cinta lingkungan dan tak ingin membuang-buang kertas untuk hal ini dan menyuruh kami menulis di papan tulis.

“sebisa mungkin kalian itu harus menghemat penggunaan kertas” katanya tadi. =..=

“kalau begitu kami ketik menggunakan komputer saja ya? Biar nanti filenya kami attach ke email anda” tawarku dengan penuh pengharapan

Dengan nada sangat tenang dan tak mengalihkan padangannya dari tumpukkan buku yang sedang ia periksa, ia menjawab “kau bisa hitung berapa listrik yang kau gunakan akibat penggunaan komputer selama dua jam? Tidak ada tawar menawar Miss Park, cepat gunakan papan tulis atau kalau tidak kutambah hukumanmu”

Jadi beginilah kami, hampir dua jam menulis di papan tulis, jika papan sudah penuh, kami akan menghapusnya dan mengulanginya dari awal lagi hingga waktu yang ditentukan habis. Aku dan Jiyong mencuri-curi waktu istirahat. Percayalah, mengangkat tangan kananmu selama 10 menit saja sudah pegal, apalagi ini. zZzzz Chaerin harus membayarnya dengan traktiran padaku selama seminggu eh tidak sebulan penuh!

“baiklah, hapus kembali tulisan kalian. Cukup untuk hukuman kali ini yang tentu saja kuharap tidak akan terjadi lagi… bla bla bla” Demi Tuhan,, ternyata ia sangat betah tinggal di sekolah karena masih menambah lagi hukuman kami dengan ceramah lebih dari 15 menit.

Setelah Mrs Oh keluar ruangan kelas, Jiyong bergegas mengikutinya. Ehhhh?? “Jiyong!!” panggilku. Ia melirikku sesaat tapi tak mau berbaik hati menghentikan langkahnya dan terus meninggalkanku sendirian di kelas.

Hhh… ia tak pernah membantuku menyelesaikan tugas kelompok kami. Bagaimana supaya ia mau mengerjakan bagiannya ya… “aaaaahhhh !!!” teriakku melepaskan frustasi sebelum mengikuti mereka keluar ruangan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Saat mendekati pintu gerbang aku melihat adikku Cheon Doong berdiri menungguku di dekat gerbang. Aku tersenyum melihat adikku yang masih dengan seragam sekolahnya. ^^~

“^O^ ya!! Dog-poop! Kau menjemput noona kesayanganmu kah?” tanyaku riang sambil berlari kecil mendekatinya

“Eh.. iya noona aku menjemputmu” langkahku terhenti saat melihat lelaki yang ada di belakangnya “…bersama Hong Chul-nim”

O.O Noh Hong Chul? Ada apa ia di sini? Mau apa??? Kupandang Cheon Doong dan Hong Chul bergantian. Cheon doong hanya menundukkan kepalanya. Tampaknya aku mencium hal tak menyenangkan.

“Halo sayang~~~ “ lelaki kurus berambut pirang yang baru saja disebutkan namanya oleh Cheon Doong.

“Eh? Ada keperluan apa?” tanyaku heran. “Bukankah hutangku sudah dibayar dua minggu yang lalu? Lagipula, masih ada jangka waktu 2 minggu lagi untuk pembayaran selanjutnya bukan?”

“tanyakan saja pada adikmu” jawab hong chul santai

Sejenak Cheon Doong tidak menjawab dan hanya menunduk “noona.. aku.. aku salah orang”

“Apa maksudmu salah orang?”

“Noona.. aku membayarkan uang pada orang yang salah, aku membayarkanya bukan pada Hong Chul-nim” isak Cheon Doong dengan wajah yang sangat bersalah. Sementara itu tubuhku tiba-tiba gemetaran, keringat dingin mulai membasahi punggungku “Hikz.. kukira.. kukira orang yang datang ke rumah malam itu adalah suruhan Hong chul-Nim seperti biasa.. ternyata dia menipuku.. dia menipuku dan mengambil uang kita…maafkan aku Noona…”

“Kenapa kau tidak bilang dari dulu hah!!” aku memukul kepalanya “ kau bodoh.. bodoh…” akupun mulai sedikit terisak mengingat jumlah uang yang kukumpulkan setiap malam dari menari striptease ternyata harus lenyap begitu saja.

“Aku takut noona, aku takut kau marah.. maafkan aku…” Ia mencoba menangkis pukulanku dengan tangannya

“Lalu siapa orang yang kau beri uang itu!!” tanyaku marah dan memukul kepalanya sekali lagi

“Aku tidak tahu noona, biasanya kan Hong Chul-Nim datang tiap hari kamis malam di minggu ketiga setiap bulannya, kukira itu suruhannya.. tapi ternyata setelah orang yang pertama mengambil uang, Hong Chul-Nim datang…” Cheon Doong berjongkok dan menangis. Aku marah tapi tak sampai hati melihatnya. Nafasku semakin cepat, air mataku sudah mulai turun.

“Aiiissssssh!!” kupukul sekali lagi adikku, kali ini di pundaknya.

“Cukup! Waktuku sempit.. cepat ikut dengan kami Park Bersaudara..” kata Hong Chul.

“Untuk apa?” tanyaku sambil melap air mataku.

“Masih nanya untuk apa? Untuk membahas bagaimana cara kalian membayar hutang kalian dengan cepat” jawabnya dan mulai mendorongku masuk ke mobil.

“Aku berjanji.. akan kubayar hutangmu secepatnya” sekuat tenaga mencoba menahan agar aku tidak dibawanya.

“Seberapa cepat heh? Kau sudah sering menunggak. Tidak bisa! Ayo cepat masuk!” Ia melepaskanku dan kali ini menarik Cheon Doong agar berdiri.

“Baiklah.. tapi biarkan Cheon Doong pulang. Ia tak akan berguna bagaimana pun juga” kataku pada Hong Chul yang dibalas anggukan setuju “Cheon Doong..” aku membalikan badan dan mendekati adikku sambil berbisik “ Pergilah ke tempat hyung mu wooyoung. Diam di sana sampai aku menjemputmu.”

“Tapi noona…” ia mengisak sekali lagi.

“Pergilah! Berlari agar cepat sampai!” Chen Doong memelukku dan kemudian berlari cepat menjauhi kami. Setelah Cheon Doong menghilang dari pandangan, aku berbalik pada Hong Chul dan berkata “tak bisakah aku pulang terlebih dahulu, aku harus… tau kan.. keperluan kewanitaan” tanyaku mencoba mengulur-ulur waktu.

“Cih! Cepat masuk! Taktikmu tak akan berhasil” Hong Chul membuka pintu mobil dan aku secepat kilat berlari ke jalan yang berlawanan arah dengan yang di lalui oleh Cheon Doong tadi.

“Ya!! Cepat kembali!!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


GD POV


“Jiyong!!”

Kudengar Sandara memanggilku, tapi kuabaikan dan bergegas keluar ruangan. Semaksimal mungkin aku harus menghindari gadis itu, bayangkan saja.. setiap bertemu dengannya aku selalu terlibat dengan hal-hal yang menyebalkan. Lagian siapa juga yang bakal menduga jika gadis itu ternyata seorang penari striptease. Ha! Kalau tidak menyebalkan pasti kugarap juga dia =..=

Dan juga, gara-gara menari striptease dia hampir diperkosa orang sehingga aku harus menyelamatkannya lebih dari sebulan yang lalu. Oh yeah, Dewa sedang menghukumku karena aku berbuat baik pada orang lain. Satu kali babak belur dihajar anak buah artis pengggila seks dan sekali lagi dipukul oleh selingkuhannya. Aku dipukul si Chipmunk karena gadis liar itu mengaku aku adalah pacarnya?? F! Aku tahu, gadis manapun tak bisa menahan obsesinya padaku. Tentu saja, Park Sandara bukan pengecualian.

Dan hari ini, obsesinya terhadapku belum berakhir, ia meneriakkan namaku di tengah pelajaran guru yang paling ditakuti di sekolah. Yeah.. entah apa yang sedang ada dipikirannya saat itu tapi sekali lagi situasinya membuatku terlibat pada hal-hal yang tak menyenangkan. Aku terkena hukuman atas sesuatu yang bahkan tak kulakukan. Menyebalkan. Gadis itu membuatku stress dan stress membuatku ingin merokok.

Aku pergi ke toilet lantai atas, tahu tak akan ada orang di sana saat ini. Kuhabiskan setengah batang rokok dan membuangnya. Selesai merokok aku segera menuju parkiran untuk mengambil motorku. Akhir-akhir ini aku sering membawa motor karena Seungri sibuk dengan pacar barunya dan aku sering pulang naik bis sendirian. Aku malas dilihat banyak gadis di bis jika sendirian, jadi aku membawa motor. Seperti biasa, aku melewati jalan belakang dan ketika akan menambah kecepatan motorku begitu tiba-tiba di gerbang luar seseorang melintas di hadapanku dan aku hampir menabraknya.

“Ya!!!” teriakku setelah membuka kaca helm. “Kau tak apa-apa?”

Ia sempat terjatuh tapi langsung berdiri dan mengarah ke boncenganku untuk naik. Park Sandara! Demi Jenggot merlin milik Harry Potter, kenapa ada dia disini? Sebelum Sandara sempat naik ke boncenganku, sesorang keburu menariknya turun.

“Lepaskan!! Aaaaaaaaaahhh!! Lepaskan!!!” ia mencoba melepaskan diri dari laki-laki yang menariknya dan…

*slaaapps!* O.O laki-laki itu menamparnya.

Aku tahu Dewa benar-benar akan menghukumku lagi nanti karena berbuat baik. Secepatnya aku turun dari motor dan dengan sekali pukulan memukul jatuh lelaki itu. Kutarik Sandara ke belakang motorku “Cepat naik” kataku pada Sandara yang langsung diturutinya.

Aku mengebut keluar dari kawasan sekolah dan terus ngebut hingga tiba di studio. LOL. Ha! Bukan studio music seperti yang kalian bayangkan. Ini sebuah tempat dimana banyak orang berkumpul dan bermain game arcade, hanya saja judul yang terpampang di atap tempat itu berjudul “Studio.” Setelah memarkirkan motorku, aku langsung menuju ke ‘studio’ dan meninggalkan Sandara.

“Jiyong!” aku menghentikan langkah tapi tidak membalikan badan. “Terima kasih..” katanya lirih. Aku masuk ke dalam dan ketika akan merokok tiba-tiba aku sadar kunci motor masih menggantung di motor di parkiran. Bergegas aku kembali ke parkiran. Hanya untuk mendapati Sandara Park tergeletak di samping motorku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~`bersambung ^^

 


>< maap~~ aku ngga tau chap ini oke apa ngga

~~~~~~~~~`fanfic ini adalah repost karena secara ngga sengaja chapter awal terhapus dari blog ^^ untuk yang sudah berkomentar, komentar kalian tidak hilang karena masih kusimpan di wordpress hallyucafe yang lama disini ^^Liar (chapter- 7)

 

This entry was posted in Comedy, Fan Fiction, Romance and tagged , . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
  • Risnawiyanti

    kantin berdarah? ekekeke

    jiyong lumayan sadis juga sih mukul orang sampai hidung patah :-/