[Fan Fiction] Colors of Life – Part 5

Part 5. He’s here.

Hari minggu ini kuputuskan untuk di rumah saja. Seperti biasa sebenarnya. Aku tidak suka keluar rumah kalau memang tidak ada yang kutuju. Biasanya aku bangun jam 10 atau kadang-kadang jam 11. Bahkan sesekali kalau malas sekali, aku keluar kamar ketika Mama memanggilku untuk makan siang. Tapi hari minggu ini ternyata agak lain dari biasanya. Jam 6 pagi, aku sudah mendengar suara kegaduhan dari luar kamarku.

Ya! Bangun kau! Sudah jam 6!”, suara kegaduhan itu makin menjadi-jadi ketika si empunya suara berteriak sambil menggedor pintu kamarku. Aku diam saja. Kesal. Suara itu muncul lagi.

Ya! Kau tidak mau mengecilkan perutmu yang makin membuncit itu!”. Kali ini suara itu menghinaku. Walaupun kesal setengah mati, sempat juga kulirik perutku lalu kulanjutkan kembali menutup kepalaku dengan bantal. Suara teriakan bising itu berhenti.

Lalu tiba-tiba “DUG DUG DUG DUG DUG DUG DUG….!!!” Pintu kamarku serasa mau didobrak, entah dengan apa dipukulnya .

Tak tahan dengan suara itu, aku menyerah dan membuka pintu kamarku. “Ya! Kau gila! Aku bersumpah kalau kau melakukannya sekali lagi kubunuh kau!”, dampratku pagi itu.

Si penggedor pintu kamarku tersenyum manis kemudian berkata perlahan sambil tersenyum. “Ayumi ssi Kau bisa kena karma kalau kau berkata kasar seperti itu pada Oppa”.

Aku diam saja lalu bermaksud menutup pintu kembali. Tapi seperti adegan drama di televisi, ia menahan pintuku kemudian masih dengan tersenyum berkata “Ayumi ssi, mianhae. Aku hanya ingin mengajakmu lari pagi”.

Ya! Bahkan kalau kau mengajakku lari ke surga, Aku juga tidak mau. Tidak di pagi ini”.

BLAM!!

*****

Aku benar-benar baru bangun saat Mama berkata bahwa makan siang hari ini sudah siap. Yakimeshi dan misoshiru. Yang kedua itu favoritku. Aku sempat kaget ketika melihat ada tiga piring, tiga mangkuk, dan tiga gelas di meja makan. Ah ya, orang itu ada di sini sekarang, ingatku kemudian.

“Apa kau setiap minggu selalu begitu?”, Tanya seseorang tiba-tiba. Ia keluar dari kamar mandi sambil mengelap kepalanya yang basah dengan handuknya. Cakep juga dia, selip batinku.

Ye. Wae? Ada masalah?”.

Ani, Tapi kau tahu, anak perempuan tidak baik tidur sampai siang”.

“Oh ya? Jadi kau perempuan?”.

Entah kehabisan kata-kata atau malas menjawabku, ia diam saja dan menarik kursinya. Ia mengambil sendokan pertamanya kemudian berbinar-binar “Omma, kau memang daebak! Kau bahkan tidak lupa memberikan potongan wortel di piringku”, ujarnya.

Aigoo, kau ini apa sih. Kau kan selalu makan wortel. Bagaimana aku bisa lupa? Bahkan Ayumi sendiri juga ingat kalau kau selalu makan itu. Waktu di Supermarket kemarin, aku hampir lupa membelinya. Kemudian ia yang mengingatkanku”, jawab Mama riang.

“Eh? Jinjja? Ayumi ssi juga mengingatnya?”.

“Tentu saja, dia bilang ‘Mama, wortel. Orang itu kan mau datang”, jawab Mama lagi.

“Ah, Ayumi ssi, aku berterima kasih sekali padamu. Bagaimana aku membalas jasamu?”, katanya riang ke arahku.

Aigoo Heechul-ya.. Berhenti memanggilnya Ayumi ssi. Kau seperti bicara dengan orang asing saja”, potong Mama.

“Ah benar juga, jadi Oppa harus memanggilmu apa Ayumi? Chagiya?”.

“Ayumi ssi!”, kataku tegas.

****

Mama memperhatikan Heechul dan aku dengan senyuman bahagia. Sebenarnya aku agak risih dipandang seperti itu, tapi yah kalau itu bisa membahagiakannya, aku tidak apa-apa.

Semenjak kedatanganku ke Korea, aku memang jarang bicara dengannya. Dan kulihat Mama pun juga tidak terlalu berusaha untuk bicara denganku. Kami berbicara tiap hari, kok. Hanya saja hanya percakapan basa-basi seperti “Hari ini kau mau kubuatkan apa untuk bekalmu?” atau “Apakah kau nanti pulang terlambat?” atau “Jangan lupa kunci pintunya”. Setiap bulan kami pun pergi ke luar entah untuk belanja di supermarket atau hanya duduk di taman sambil makan es krim. Tapi kami tidak banyak bicara tentang perasaan masing-masing. Kadang-kadang ekspresinya saat bersamaku menunjukkan wajah kesedihan. Kadang-kadang aku merasa bersalah dengan hal itu. Tapi aku belum bisa berbuat apapun untuk mencairkan es di antara kami berdua.

“Kau hanya akan di rumah saja hari ini?”, kata Heechul memecah keheningan.

“Mungkin”, jawabku singkat.

“Bagaimana kalau kau ikut denganku?”.

“Kemana?”.

“Night Club”.

“Boleh juga”.

Dia kemudian terdiam. Agak terkejut sepertinya. “Jinjja? Kau mau pergi ke Night Club bersamaku?”, tanyanya sambil membelalakkan mata.

“Kenapa memangnya?”, jawabku santai.

“Kau.. memang kau sudah boleh masuk ke sana?”, ia masih membelalakkan matanya.

“Tidak tahu, aku belum pernah melakukannya. Jadi kenapa tidak?”.

“A.. A.. Aku kan hanya bercanda”.

“Oh, bercanda? Kupikir benar. Sayang sekali padahal aku ingin mencoba mabuk di Night Club”, tanyaku sambil meyeruput misoshiru sampai tandas.

“A..Apa? Mabuk? Kau sudah bisa mabuk? Ya! Kau masih di bawah umur, kau tahu!”.

PLAK! Mama memukul kepala Heechul. “Ish! Anak bodoh! Kau pikir aku mengasuh Ayumi dengan buruk, ha? Sehingga ia sudah kuizinkan mabuk??!”, kata Mama membelaku.

A.. Ani yo.Aku.. Aku benar-benar terkejut ketika ia santai saja kuajak ke Night Club”, kata Heechul membela diri.

“Cih”, ujarku singkat.

“A.. aku pernah melihat anak seumurmu ke Night Club, jadi aku benar-benar khawatir”, katanya dengan suara yang hampir tidak terdengar:

“Kau bilang apa?”, Tanya Mama yang sibuk membereskan piring di meja makan.

Ani. Omma, sini kubantu!”, ia bangkit dan menuju Mama di dapur.

Aku tersenyum kecil. Ah, ternyata dia benar memikirkanku.

***

Aku memutuskan untuk mengiyakan ajakannya pergi ke luar. Ia menjanjikan akan mentraktirku kopi dan tempat yang ditujunya juga tidak begitu membosankan. Perpustakaan. Bagi sebagian orang, mungkin perpustakaan membuat rasa bosan. Tapi tidak untukku. Di sana tidak ada yang mengharuskanku untuk bicara.

“Kau sering ke perpustakaan?”, tanyaku ketika kami tiba di pintu masuk.

Tidak ada jawaban.

“Kau sering ke perpustakaan?”, tanyaku lagi.

Masih tidak ada jawaban.

Ia menengok ke arahku. “Kau berbicara padaku?”, tanyanya sok polos. “Kau bahkan tidak menyebut namaku”.

Mood ku sejak masuk ke gedung ini sedang baik, jadi kuputuskan untuk menjawabnya baik-baik “Heechul Oppa sering ke perpustakaan?”, bahkan kutambahkan senyum di ujung kalimat.

“Di kampus aku harus sering ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Tidak untuk main. Kupikir kau ke perpustakaan  untuk refreshing kan?”

Ne. Bagaimana kau tahu?”.

“Kau menyebut namaku dengan baik sekali. Itu berarti mood mu sedang baik. Hehehe”.

“Apa kau sekarang mau mencari tugas?”.

“Tidak”.

“Lalu mengapa kau ke sini?”.

“Ada temanku yang datang. Kami berjanji bertemu di sini”.

“Eh? Janjian bertemu di perpustakaan?”.

Ne”, ujarnya sambil menahan senyum.

Oke. Ada yang disembunyikannya. Jangan bilang ia mau mengenalkanku pada seorang laki-laki. Dan dia tahu kalau aku suka perpustakaan sehingga aku tidak akan menolak kalau diajak pergi ke tempat ini.

“Dan kau bermaksud mengenalkannya padaku?”.

Ne”.

Nah, benar kan. Tepat dugaanku.

“Ah, itu dia!”, Heechul menunjuk seseorang yang sedang duduk membaca di tengah-tengah perpustakaan.

Eh? Perempuan?

To be continued..

Yakimeshi : nasi goreng

Misoshiru : Sup miso

Anyeong!!! Halo pembaca Hallyucafe tercinta. Opat di sini. Sebelumnya, aku meminta maaf atas ketidak konsistennya dalam penulisan FF bersambung ini. Tidak terasa, part 4 yang terakhir kutulis, dibuat beberapa bulan lalu. Lama sekali. Huks huks.  T___________T. Bagi kamu yang baru membaca, silahkan membuka Part 1, 2, 3, dan 4 untuk melihat cerita sebelumnya. Dengan sempat hiatus sekian lama bahkan lupa kalau punya FF, kuharap penulisan dan pengembangan ceritaku menjadi lebih baik. Jangan lupa silahkan berikan komentar kamu . Gomawoyo…

See also  :

Part 1

Part 2

Part 3

Part 4

Photo credit : CassidyMeouw @deviantart

This entry was posted in Fan Fiction and tagged . Bookmark the permalink. Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.
  • http://kimchidee.wordpress.com/ kimchi.dee

    sebenernya ada semacam benang yang nggak nyambung di dalam kepalaku, ..
    pertama, Heechul itu siapa ya? *aku membayangkan dia itu semacam anak hilang yang diangkat jadi keluarga, (so sinetron banget ya akuh)
    yang kedua, enam tahun lalu itu ngapain dia di Jepang?
    yang ketiga, .. apa-apaan nih ada yang nggak diceritain?! kependekkaaann!!!!!
    *we want more! we want more!*

    ganbatte, opatkuuhhh~

  • http://leyaa.wordpress.com leyaa

    ada pertanyaan lage nie pat.. #biar opat makin rajin nulisnya di part selanjutnya.. :) #
    Jelaskan dikit dunk, napa ayumi ma ummanya hubungannya jadi kyk gt padahal kan dulunya gag kaku.. Kalo masih misteri, di selip2kan aja dikit jadi gag sepenuhnya ngambang..
    yang terakhir sesuju ma dee.. kependekan nie partnya jadi gag banyak inti cerita yang bisa di ceritain..
    Opat.. hwaiting!!!

  • Risnawiyanti

    aku kritik dikit ga papa kan chingu? :’)

    ceritanya ini rada2 kurang nyambung gitu antara part 1 dgn yg lain ny
    Dan setiap muncul part baru, pasti ada sesuatu yg belum tuntas gt di ceritanya
    aku kirain part selanjutnya itu, tuntasan cerita yg part sebelumnya

    hehe kritikanny mohon dipertimbangkan ya min
    figiting!!

    • http://happyandshiny.wordpress.com opathebat

      APAAAHHH??? KAU MENGKRITIKKU!!!

      heheheheh.. gumawo yo ;)

      terima kasih ya kritikannya. aku terbuka untuk sgala kritik, saran, uang, kado, makanan, dan lain-lain.. semoga di part ke depan makin oke saja (?)
      makasih udah mau baca.. keep komen ya..