
~
Di dekat rumah ada sebuah danau yang tidak begitu besar, konon katanya sih genangan air raksasa itu baru muncul setelah gempa besar di Fukuoka, Jepang tahun 1978 lalu. Letaknya tepat di tengah-tengah perbatasan kebun buah persik dan tangerine yang memisahkan kawasan perumahan Dokjo dengan resort wisata Nasional pulau Jeju. Jihoo selalu melewati danau itu sebagai rutenya berangkat dan pulang sekolah tiap hari, karena jalannya yang sepi dan bentuk topografinya yang membuat dia seolah sedang berjalan-jalan di hutan oak seperti di film-film Hollywood, hanya saja di sana pohonnya cebol-cebol.
Saat itu pertengahan musim dingin, hari ketiganya menjadi penghuni baru daerah Dokjo, ketika dia melihat seorang gadis berseluncur dan menari di atas danau yang membeku. Hari itu setidaknya temperatur mencapai minus 20 derajat, dan dia sangat heran melihat si gadis kecil melenggang di udara terbuka tanpa baju hangat yang layak, hanya satu lapis mantel tanpa sarung tangan atau syal untuk menghangatkan lehernya. Jihoo tidak bisa membayangkan bagaimana gadis itu bisa bertahan di hawa yang luar biasa dingin itu.
Jihoo hendak menghampirinya, tapi llalu mengurungkan niatnya ketika melihat si gadis kecil asik menikmati kesendiriannya. Dia kemudian mendengar gadis itu menggumamkan sebuah lagu klasik sambil menggerakkan tangan dan tubuhnya, berputar-putar di atas es, seperti penari yang sedang tampil di atas panggung. Jihoo memutuskan untuk menonton panggung pribadi itu dari balik pohon.
Sambil mengamati dari jauh, Jihoo tidak ingat pernah melihat anak itu di sekolah. Umur mereka sepertinya tidak begitu jauh, tapi dia heran kenapa sepertinya hari itu adalah pertama kalinya dia melihat gadis itu di depan matanya. Dia baru saja berniat untuk menghampiri ketika tiba-tiba gadis itu terlihat seperti terkejut karena sesuatu. Dengan tangannya yang pendek, anak perempuan itu menyambar bantalan sepatu luncur di pinggir dan berseluncur menyeberangi sisi lain danau, ke arahnya. Tadinya Jihoo tidak mengerti apa yang membuat gadis itu tiba-tiba saja panik dan terburu-buru melarikan diri, hingga dia melihat bayangan seorang pria tua muncul dari balik pepohonan, samar-samar meneriakkan nama gadis itu.
“Yobi ah!! Di mana kau??”
Gadis itu berseluncur lebih cepat dan berusaha memanjat di antara timbunan salju setelah sampai di ujung danau. Saat itulah Jihoo muncul dari persembunyiannya dan mengulurkan tangannya untuk membantu. Si gadis kecil yang terkejut melihatnya tiba-tiba muncul hampir saja terjengkang, tapi untungnya dia berhasil menangkap lengan baju gadis itu lebih dulu.
“Pegang tanganku!” katanya seraya menarik gadis itu sekuat tenaga.
“Yobi ah!!!”
Dia berhasil menarik Yobi dari danau dengan susah payah, tapi tau bantuannya tidak akan berakhir di sana ketika mendengar teriakan pria itu jauh lebih dekat dan jelas dibanding sebelumnya.
Dengan cepat Yobi memasang bantalan di sepatu luncurnya dan berlari bersembunyi dari pria yang meneriakkan namanya itu. Ji Hoo berlari di belakangannya, meskipun dia tidak yakin juga mengapa perlu melakukannya. Dia menarik Yobi ketika menemukan sebuah pipa beton besar tak jauh dari semak di tepi jalan setapak,
“Shh, jangan bersuara.” Bisik Jihoo pelan.
“Yobi ah! Jung Yobi! Cepat kemari! Kau mau kupukul lagi??!”
Yobi memekik pelan ketika sadar suara itu sangat dekat dari tempat persembunyian mereka, Ji Hoo menempelkan jari telunjuk di bibirnya sementara si anak perempuan membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Tangannya baru turun ketika suara itu memudar dan Yobi baru bisa menghela nafas lega. Dia melepas sepatu luncurnya dan memijat kakinya sambil mengaduh pelan.
Sepertinya kakinya terkilir saat berlari tadi, pikir Jihoo yang menatapnya dalam diam menatap Yobi yang bersikap seolah dia seorang diri di dalam pipa itu.
“Kakimu baik-baik saja?” tanya Jihoo kemudian, memutuskan untuk bicara lebih dulu karena bosan didiamkan. Dia mengulurkan tangannya mencoba untuk membantu tapi Yobi menepisnya.
Gadis itu menatapnya dengan tidak ramah beberapa saat seolah sedang mencari tau di sela-sela pikirannya, kenapa tiba-tiba anak laki-laki ini muncul untuk membantu Yobi melarikan diri dan bersembunyi. Ketika sepertinya gadis itu tidak menemukan apa-apa, Yobi menyerah dan merangkak untuk keluar dari pipa.
“Oh!”
Yobi melihat pria itu kembali, dengan cepat dia merangkak kembali ke tengah-tengah pipa di mana Jihoo masih duduk kebingungan dan memeluknya ketakutan.
“Apa kau akan memberi tahuku siapa pria itu?” bisik Jihoo bertanya pelan, penasaran.
Yobi mengeratkan pelukannya, dengan suara bergemetar dia menjawabnya,
“Oori appa, ..”
* * *
Bayangan itu sepertinya tidak akan pernah hilang dari dalam ingatan Jihoo. Tiap adegannya terulang dengan sangat jelas dan detil, seperti ada DVD player di dalam otaknya memutarkan video pertemuan pertamanya dengan Yobi, si manusia salju.
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kali dia melihat satu-satunya gadis yang bertahan dengan dinginnya suhu minus derajat, berjalan bertelanjang kaki di atas salju dengan badan yang hampir membeku, tapi masih keras kepala juga menolak memakai jaket yang dipinjamkannya.
Jihoo hampir tidak mempercayai dengan apa yang dilihatnya hari ini, apakah entah matanya yang menipunya, atau dia berhalusinasi, karena ini hampir tidak tidak mungkin juga bila dia melihat Yobi di Seoul. Ada yang salah dengan pemandangan yang terlihat jauh di depan matanya itu.
“Jjamkan, ..” katanya pada teman-temannya, memisah dari gerombolan dan berjalanan mendekat ke ice rink, bersandar di tembok pembatas dan memicingkan matanya.
Jauh dari tempatnya mengawasi, gadis itu berdiri di tepi rink. Bersandar di tembok pembatas dan menatap lapangan es di depan matanya dengan ragu.
“Yah, Han Jihoo. Ada apa? Siapa yang kau lihat?” tanya beberapa temannya bergantian yang heran melihat sikapnya tiba-tiba terfokus pada sesuatu di dalam lapangan yang hari ini tidak begitu ramai dengan pengunjung.
“Kalian duluan saja. Nanti aku menyusul.” Kata Jihoo, tidak menjawab pertanyaan mereka seraya menyuruh teman-temannya pergi. Sekali lagi Jihoo mengawasi, mencoba meyakinkan matanya bahwa yang dilihatnya bukanlah tipuan cahaya semata.
Cukup lama dia harus meyakinkan diri, menunggu gadis itu bergerak. Jihoo berjalan pelan, memutari lapangan supaya bisa melihat lebih dekat. Gadis itu itu menutup matanya beberapa saat, kemudian dengan pelan menggerakkan kakinya.
Ji hoo mengawasinya berputar-putar kecil di pinggir lapangan, lalu kemudian berseluncur lebih jauh. Saat itulah kemudian bibirnya melebar menyunggingkan senyum simpulnya. Gadis itu berseluncur melewatinya, menatapnya sedang tersenyum sekilas lalu dengan cepat membuang matanya ke arah lain tanpa membalas senyumnya.
Jihoo mendengus dan kemudian tertawa pelan, “Hoh, .. mata itu, ternyata memang kau.” Katanya. Dia menyandarkan tubuhnya di pagar tanpa kaca, menonton dari jauh Yobi berseluncur. Video di dalam DVD player di otaknya kembali terputar memperlihatkan hari-hari yang dipenuhi dengan hujan salju yang lebat, danau yang membeku, lalu Yobi akan menari tarian angsa dan Jihoo akan menontonnya di pinggir danau.
Sebuah senyum kembali mengembang di sudut wajah Jihoo, menatap Yobi dari pinggir lapangan, mengawasinya berseluncur. Rasanya seperti mengulang kembali rutinitasnya bertahun-tahun lalu.
“Bangabda, Yobi ah .. Oraenmaniya…” gumamnya.
Hari ini dia akan tidur nyenyak, .. skater kesayangannya telah kembali.
* * *
Kimchidee’s note:
Nggak pede ih mau memburai usus sendiri di blog, hehehe .. Ngeliat FF para sunbae yang udah dipublish keren-keren begituh. Anyway, ini FF kedua setelah “As She’s Gone“. Aku lebih suka bikin cerita dengan genre tragedi dan yang sedih-sedih daripada yang romantis *soalnya kaga bisa, hehe*, genre itu akan lebih nikmat bila aku membacanya, bukan menuliskannya. Cerita ini sendiri udah setengah jadi, tinggal nyelesein aja, belum tau gimana akhirnya .. Jadi, untuk saran dan masukkannya, 부탁해요, 제발~ hehehehe.. Kuharap kalian menikmatinya.

